WHO Beri Peringatan Soal Terapi Plasma Darah untuk Lawan COVID-19
AP
Health

Peringatan dari WHO ini muncul setelah Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Dr. Stephen Hahn, menyatakan menyetujui penggunaan plasma darah untuk pasien COVID-19.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pihaknya bersikap sangat berhati-hati dalam mendukung penggunaan plasma penyintas COVID-19 untuk mengobati pasien virus corona. Peringatan dari WHO ini muncul setelah Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Dr. Stephen Hahn, menyatakan menyetujui penggunaan plasma darah untuk pasien virus corona.

WHO mengatakan, bukti bahwa plasma mampu menyembuhkan COVID-19 masih sangat rendah, bahkan disaat Amerika Serikat mengeluarkan otorisasi darurat untuk terapi tersebut. "Ada sejumlah uji klinis yang dilakukan di seluruh dunia yang mengamati dampak penggunaan plasma pasien yang sembuh dibandingkan dengan perawatan standar," kata Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan WHO.

"Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar melaporkan hasil sementara. Dan saat ini, kualitas bukti masih sangat rendah," lanjut Swaminathan dalam konferensi pers.

Sebelumnya, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya mengizinkan penggunaan plasma darah dari penyintas COVID-19 sebagai pengobatan. Hal itu disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyalahkan FDA karena menghalangi peluncuran vaksin dan obat COVID-19 demi alasan politik. Kendati demikian, FDA membantah mendapat tekanan dari Donald Trump.


FDA menyatakan keputusan itu diambil karena berdasarkan hasil data penelitian menunjukkan metode itu dinilai berdampak positif. "Dari penilaian para pakar dan ahli di FDA, dari sejumlah data penelitian yang diterbitkan, para peneliti itu menyimpulkan bahwa plasma darah aman dan cukup manjur, sehingga memenuhi kriteria untuk penggunaan secara darurat," kata kepala FDA, Dr Stephen Hahn.

Namun status penggunaan darurat berbeda dengan membolehkan secara umum. Sebab, cara itu hanya dilakukan hanya bagi orang-orang yang mau mencoba. "Kami masih menunggu tambahan data. Kami sangat senang dengan hasil ini," imbuh Hahn.

FDA menganjurkan para penyintas COVID-19 untuk mendonorkan darah mereka dengan harapan protein yang membentuk sistem kekebalan tubuh mereka dalam memerangi infeksi bisa membantu pasien lain. Menurut Hahn, sampai saat ini ada lebih dari 90 ribu penduduk AS yang bersedia mengikuti program donor, dan ada 70 ribu pasien virus corona yang mau mencoba terapi plasma.

Terapi plasma darah diyakini dapat mendorong pasien untuk melawan COVID-19 lebih cepat dengan bantuan antibodi penyintas. "Produk ini mungkin akan efektif dalam melawan COVID-19 dan yang paling terkenal dan keuntungan potensial dari produk itu lebih besar dibandingkan risiko yang diketahui," demikian pernyataan resmi FDA.

Metode pengobatan terapi plasma darah ini sebetulnya sudah digunakan pada sejumlah pasien di AS dan negara-negara lain. Namun, sejauh mana keefektifannya masih diperdebatkan oleh para ahli. Dan, beberapa ahli di antaranya telah memperingatkan bahwa hal itu dapat membawa efek samping.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait