Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi angkat berbicara mengenai ‘ledakan’ kasus perceraian di Indonesia yang terjadi selama pandemi virus corona (COVID-19). Apa katanya?
- Ruth Meliana
- Rabu, 26 Agustus 2020 - 18:09 WIB
WowKeren - Kasus perceraian di Indonesia selama pandemi virus corona (COVID-19) disebut-sebut mengalami kenaikan. Hal ini juga terlihat dari viralnya sebuah video yang memperlihatkan puluhan pasangan suami istri yang mengantre panjang hingga mengular di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Bandung pada Senin (24/8) lalu.
Puluhan pasutri tersebut mengantre untuk mengikuti persidangan perceraian di PA Bandung. Isu yang beredar menyebut jika situasi pandemi yang berdampak pada ekonomi membuat angka perceraian hingga pengajuan cerai menjadi tinggi.
Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi lantas angkat berbicara mengenai fenomena antrean perceraian yang sempat menggegerkan publik itu. Ia menegaskan sama sekali tidak mendapatkan laporan khusus terkait meningkatnya angka perceraian di Pengadilan Agama akibat pandemi COVID-19.
Meski demikian, Fachrul berjanji akan mempelajari terlebih dahulu data-data perceraian hingga penyebabnya. Salah satunya apakah berkaitan dengan dampak ekonomi pandemi corona atau tidak.
“Kalau gara-gara pandemi karena apanya, atau karena ekonomi jatuh,” kata Menag usai melantik pengurus Ormas Bravo 5 di Serang, Banten seperti dilansir dari Detik pada Rabu (26/8). “Tapi nanti kia lihat kita pelajari.”
Fachrul berjanji jika Kementerian Agama (Kemenag) akan mencari titik masalah fenomena ledakan perceraian di tengah pandemi corona. Secara khusus, Kemenag juga akan menyelidiki data perceraian terkait viralnya antrean pasutri yang terjadi di PA Bandung tersebut.
Jika terbukti pandemi virus corona membuat angka perceraian di Indonesia meningkat, maka Fachrul bersama Kemenag akan langsung menanganinya. Adapun cara yang akan dilakukan adalah dengan mencari terapi yang tepat.
“Kalau sudah tahu titik masalahnya, kita coba cari terapinya,” ungkap Fachrul. “Tapi menurut saya sebetulnya nggak ada kaitan sama itu (pandemi), tapi nanti kita lihat.”
(wk/lian)