Sejumlah Sekolah Swasta di Kenya Berubah Jadi Kandang Ayam Akibat Pandemi COVID-19
Dunia

Sekolah swasta yang mendidik sekitar seperlima anak Kenya diketahui bergantung pada uang siswa untuk pendapatan mereka. Penutupan sekolah akibat COVID-19 membuat mereka tidak bisa membayar gaji staf.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) rupanya membuat sekolah di Kenya beralih fungsi. Alih-alih menjadi tempat belajar-mengajar seperti biasanya, kini ruang kelas justru difungsikan sebagai kandang ayam.

Hal inilah yang tampak di Mwea Brethren School, Kenya, Afrika Timur. Keputusan Pemerintah Kenya menutup semua sekolah sejak Maret hingga Januari mendatang karena COVID-19, membuat banyak sekolah swasta berjuang bertahan hidup.

Papan tulis telah dialihfungsikan menjadi papan jadwal vaksinasi. Meja-meja di kelas diletakkan di pojok untuk memberi ruang bagi persediaan pakan ternak.

Pemilik sekolah pusat di Kenya, Joseph Maina, mengaku bahwa ia harus beralih ke peternak untuk mendapatkan uang karena dia tidak lagi mendapatkan penghasilan dari layanan pendidikan. Sekolah swasta, yang mendidik sekitar seperlima anak Kenya, diketahui bergantung pada uang sekolah untuk pendapatan mereka.

Penutupan sekolah membuat mereka tidak dapat membayar gaji staf. Maina mengatakan, beberapa guru di sekolahnya telah meneleponnya untuk menanyakan sesuatu yang bisa mereka lakukan. Keadaan menjadi sangat sulit saat dia masih harus membayar pinjaman dan bernegosiasi ulang dengan bank.

"(Tetapi) kami memutuskan kami harus melakukan sesuatu (pada sekolah) untuk bertahan hidup," ujar Maina, sebagaimana dikutip dari Republika.


Sekolah lain di Kenya tengah yang sudah berdiri selama 23 tahun, Roka Preparatory, juga telah mengubah tempatnya menjadi sebuah peternakan ayam. Bahkan, taman bermain berubah menjadi kebun sayuran. "Tidak pernah seburuk ini. Keadaan saya mirip dengan sekolah lain. Saya kesulitan mengisi bahan bakar mobil. Para guru dan siswa tidak lagi di sini. Secara psikologis, kami sangat terpengaruh," kata pendiri sekolah, James Kung'u.

Sekolah Mwea Brethren dan Roka hanya memiliki dua karyawan yang membantu pekerjaan pertanian. "Ini bukan untuk kekayaan. Kami nyaman, setidaknya kamu tidak bosan, sibuk dan ini seperti terapi," ujar Kung'u.

Pemilik kedua sekolah itu mengkhawatirkan nasib guru yang harus pergi tanpa bayaran selama lima bulan. Berbeda dengan staf di sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah yang telah menerima gaji mereka.

Penutupan sekolah membuat banyak guru atau pekerja di sekolah berada dalam masalah keuangan yang serius. Sejumlah kecil sekolah telah berhasil melanjutkan pengajaran melalui pembelajaran online

Menurut Asosiasi Sekolah Swasta Kenya (KPSA), biaya yang mereka peroleh hampir tidak menutupi biaya hidup dasar guru. Kepala eksekutif KPSA, Peter Ndoro, mengatakan sekitar 95 persen dari 300 ribu anggota staf sekolah swasta cuti tidak dibayar.

Selain itu, 133 sekolah terpaksa ditutup secara permanen. KPSA ingin pemerintah membantu menyelesaikan masalah keuangan melalui hibah sebesar 65 juta dolar Amerika Serikat. Harapannya juga agar para guru tetap menjalankan profesinya.

Ia memperingatkan, jika uang tidak ada bantuan keuangan, beberapa sekolah mungkin tidak dapat bertahan. Kementerian telah menawarkan bantuan melalui pinjaman lunak yang akan tersedia bagi perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat, tetapi Ndoro khawatir itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan semua sekolah di Kenya.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait