Epidemiolog Sebut Karhutla Berpotensi Perburuk Pandemi COVID-19
AAP/Reuters/Shane Chalker
Nasional

Saat ini, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sendiri masih terus mengalami penambahan saban harinya. Pandemi ini bahkan diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat

WowKeren - Di tengah menghadapi pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, Indonesia juga dihadapkan pada persoalan lain. Salah satunya seperti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karhutla dikatakan dapat memperparah kondisi pandemi COVID-19 yang menyebar di Indonesia. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dapat membahayakan paru-paru manusia. Terlebih lagi jika sudah memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono. Ia menyebutkan jika asap tebal yang ditimbulkan dari karhutla sangat berpotensi meningkatkan risiko penyakit tuberkulosis.

Bukan tanpa alasan, dalam asap tersebut terdapat peningkatan indeks NO2 (Nitrogen Dioksida) yang lebih berisiko dibandingkan PM10 dan SO2 (Sulfur Dioksida). Sehingga orang yang memiliki gangguan fungsi paru-paru terpapar COVID-19 lalu menghirup asap ini maka bisa meningkatkan angka kematian.


Saat ini, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sendiri masih terus mengalami penambahan saban harinya. Pandemi ini bahkan diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat. Jika kondisi semacam ini dibiarkan lalu diperparah dengan karhutla maka dikhawatirkan jumlah korban meninggal akan semakin banyak.

Oleh sebab itu, Pandu mengingatkan agar pencegahan karhutla benar-benar dilakukan semaksimal mungkin. Begitu juga dengan upaya menekan penularan virus corona, juga harus diperketat.

"Artinya akan banyak yang meninggal ditambah lagi kalau ada kebakaran hutan, jadi kita harus mencegah dua-duanya, kebakaran hutan jangan sampai terjadi," kata Pandu dalam acara webinar, Sabtu (29/8). "Karena akan memperburuk era pandemi dan juga pandemi ini sebenarnya bisa diatasi kalau serius mengendalikan (penyebaran)."

Sementara itu, jumlah penderita tuberkulosis atau TBC di Indonesia juga tidak bisa dibilang sedikit. Menurut Pandu, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara dengan pasien penderita TBC terbanyak.

Pandemi di Indonesia harus bisa ditekan semaksimal mungkin karena asapnya yang membahayakan penderita TBC. "Kalau masuk ke paru, kan akan dibawa oleh darah menuju ke semua sistem tubuh kita. Bukan hanya pada paru tapi (juga berdampak pada) fungsi imunitas lainnya," tutur Pandu.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait