Ini Kata Psikolog Soal Ospek 'Keras' Bantu Membentuk Mental Maba
Nasional

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych, buka suara terkait maraknya ospek 'keras' yang kerap dilakukan oleh para senior terhadap para mahasiswa baru (maba).

WowKeren - Baru-baru ini media sosial kembali dihebohkan dengan cuplikan video ospek masiswa baru (maba) yang dibentak-bentak oleh seniornya saat ospek daring. Usut punya usut, maba tersebut dibentak dan dimarahi oleh para senior karena tidak menggunakan ikat pinggang seperti yang ditetapkan oleh aturan.

Tentunya video tersebut menjadi viral dan menuai beragam komentar dari netizen. Tak sedikit dari netizen yang menyayangkan sikap "keras" para senior terhadap para maba.

Namun, ada pula netizen yang menyebut kebiasaan ospek yang 'keras' seperti ini sudah biasa dilakukan untuk membentuk mental yang lebih kuat dan disiplin. "Tetap perlu sih, menurut gue melatih mental dan latihan berpikir sama nyelesaiin masalah saat menghadapi tekanan. Selama ospeknya batas wajar dan beresensi ya kenapa enggak. Tapi kalau udah pakai kekerasan atau emang sengaja senioritas ya baru deh diudahin aja," komentar salah satu pengguna Twitter.


Menanggapi hal ini, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych, mengatakan ospek yang menerapkan kekerasan verbal tidak bisa membantu membentuk disiplin maba. Budaya ospek seperti ini malah bisa menimbulkan perpecahan dan menjadi siklus karena ada rasa dendam.

"Nanti mereka (maba) ketika status sosialnya naik, jadi kakak tingkat, membalas itu karena diperlakukan seperti itu dengan rasionalisasi akan membuat tegar, kreatif, kompak," kata Ratna dilansir detikcom, Selasa (15/9). "Di dunia pendidikan luar negeri hal seperti ini enggak ada tapi mereka bisa tetap berprestasi."

Ratna lantas menambahkan bahwa ospek atau program orientasi seharusnya membantu maba mengenali kehidupan kampus. Para senior seharusnya bisa mengajarkan hal-hal yang akan dibutuhkan kelah seperti misalnya bagaimana berpikir kritis atau mencari informasi di perpustakaan.

"Kalaupun mau bikin games yang aneh-aneh, diharapkan justru respons yang memancing kreatifitas dan harusnya fun gitu," pungkasnya. "Belajar karena fun itu jauh lebih efektif daripada belajar karena takut."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts