Sambut Niat Damai Syakir Daulay, ProAktif Bakal Kembalikan Channel YouTube Dengan Harga Fantastis
Instagram/syakirdaulay
Selebriti

Perseteruan Syakir Daulay dan label ProAktif masih terus berlangsung hingga saat ini. Niat pihak Syakir Daulay untuk mengambil jalan damai akan disetujui label ProAktif jika memenuhi sejumlah persyaratan.

WowKeren - Pihak Syakir Daulay rupanya ingin berdamai dan kembali melaksanakan kerjasama dengan label ProAktif. Hal itu pun disambut baik ole pihak ProAkatif. Meski begitu, Agi Sugiyanto, pemilik sekaligus pimpinan ProAktif mengajukan beberapa syarat.

"Pihak Pak Sugiyanto boleh saja (kembali kerja sama) yang penting ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk bisa kerjasama lagi," ungkap Abdul Fakhridz, kuasa hukum ProAktif usai sidang di Pendilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/9) dilansir dari Suara.com.

Syarat tersebut juga sudah disampaikan kepada tim kuasa hukum Syakir Daulay. Sayangnya, pihak ProAktif hingga kini belum menerima jawaban dari tim kuasa hukum lelaki asal Aceh itu.

"Syarat-syarat sudah kita sampaikan kepada mereka. Mungkin masih dipertimbangkan lah apakah diterima atau tidak. Kalau tidak diterima otomatis mediasi gagal," tuturnya.


Apabila Syakir Daulay memilih untuk tidak lagi bekerjasama, pihak ProAktif pun rela melepasnya. Bahkan, channel YouTube yang menjadi sengketa bisa kembali dimiliki Syakir dengan ketentuan harus membelinya.

"Dia nggak mau kerja sama, ya silakan baik-baik. Kalau dia mau akun youTube-nya, beli kembali karena sampai saat ini akun YouTube-nya masih menjadi milik kita. Kalau dia ingin mengelola sendiri ya udah beli lagi," jelas Abdul.

Pihak ProAktif memastikan akan menjual akun YouTube tersebut dengan harga yang tidak murah. Disinggung kemungkinan akan melepas seharga Rp 1 miliar, Abdul Fakhridz punya jawaban sendiri.

"Harganya cukuplah karena akun YouTube itu sudah cukup punya nilai ekonomisnya. Tidak mungkin kita menjual dengan angka segitu (Rp 200 juta). Satu bulan saja kita pernah menghasilkan Rp 200 juta kok. Bisa lebih dari itu (Rp 1 miliar). Yang namanya kita harga jual. Bisa seperti itu lah (miliaran rupiah). Satu bulan kalau Rp 200 juta kita kalikan itu. Waktu bulan Mei kalau kita kelola secara profesional itu Juni, Juli, Agustus kan sudah menggulung. Kalau Rp 200 juta rugi kita. Itu namanya bukan bisnis," pungkas Abdul.

(wk/amel)

You can share this post!

Related Posts