Jokowi Ungkap Alasan RI Masih Impor Garam: Produksi Nasional Rendah
https://setkab.go.id/
Nasional

Untuk mengatasi persoalan ini, Jokowi telah memberikan instruksi kepada jajaran menterinya untuk melakukan perbaikan melalui pembenahan besar-besaran pada produksi garam nasional.

WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi membeberkan alasan mengapa Indonesia masih terus melakukan impor garam. Menurut Jokowi, hal itu dilakukan lantaran produksi garam dalam negeri masih rendah.

Rata-rata dalam setahun, Indonesia memerlukan 4 juta ton garam. Sedangkan produksi garam dalam negeri hanya mampu mencapai 2 juta ton saja. Sehingga menurut Jokowi cara yang cepat untuk bisa menjadi solusi adalah dengan mengimpor komoditas tersebut dari negara lain.

Hal itu disampaikan oleh Jokowi saat membuka Rapat Terbatas tentang Percepatan Penyerapan Garam Petani di Jakarta, Senin (5/10). Jokowi menyebut jika masalah ini sudah ada sejak dulu tanpa penyelesaian.

"Masih rendah produksi garam nasional kita, sehingga yang kemudian dicari paling gampang yaitu impor garam," kata Jokowi. "Dari dulu begitu terus dan tidak pernah ada penyelesaian."


Oleh sebab itu untuk mengatasi persoalan ini, Jokowi telah memberikan instruksi kepada jajaran menterinya untuk melakukan perbaikan, Hal itu dilakukan melalui pembenahan besar-besaran pada produksi garam nasional.

Jokowi menegaskan jika rantai pasok mulai dari hulu sampai hilir harus segera dibenahi. Misalnya dengan melihat lagi ketersediaan lahan produksi garam. Tak hanya produksi namun juga kualitas garam itu sendiri.

"Harus ada upaya betul untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat," jelas Jokowi. "Artinya penggunaan inovasi teknologi produksi terutama washing plan harus betul-betul dikerjakan sehingga pasca produksi bisa memberikan ketersediaan terutama dalam gudang penyimpanan."

Untuk itu, pemerintah akan berupaya membantu para petani garam untuk meningkatkan kualitas produksi mereka. Untuk langkah ini Jokowi telah memerintahkan para menterinya. Sebab Jokowi menilai kualitas garam produksi nelayan lokal masih rendah. Hal ini membuat hasil produksi mereka kurang bisa maksimal untuk terserap di sektor industri.

"Data yang saya terima per 22 September, masih 738 ribu ton garam rakyat yang tidak terserap industri kita," ujar Jokowi menjelaskan. "Ini agar dipikirkan solusinya, sehingga rakyat garamnya bisa terbeli."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts