Terpilihnya Rusia dan Tiongkok menjadi Anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB rupanya telah memicu protes dan kecaman dari sejumlah aktivis dunia. Ini penyebab utama penolakan mereka.
- Ruth Meliana
- Rabu, 14 Oktober 2020 - 12:18 WIB
WowKeren - Rusia dan Tiongkok telah terpilih sebagai Anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa (13/10). Namun, pemilihan tersebut justru menuai protes dan kecaman dari sejumlah aktivis dunia.
Kecaman dilontarkan lantaran kedua negara tersebut dinilai memiliki rekam jejak kelam terkait pelanggaran HAM. Bahkan, para aktivis sempat memohon ke negara-negara Uni Eropa untuk tidak memberikan dukungannya terhadap kedua negara tersebut.
UN Watch yang merupakan LSM pemantau berbasis di Jenewa menyatakan kekecewaannya akan terpilihnya kedua tersebut sebagai Anggota Dewan HAM. Hal tersebut diibaratkan seperti mengizinkan terpidana pembakaran untuk bergabung dengan pemadam kebakaran.
Sementara itu, Presiden dari Citizen Power Initiatives for China dan mantan tahanan politik, Yang Jianli membeberkan jika Tiongkok terlibat dalam penghancuran politik di Hong Kong. Ia lantas mengecam jika Tiongkok hanya boleh dipilih jika pemilihan untuk memperebutkan kategori pelanggar HAM.
"Dengan standar apapun Tiongkok telah menyalahgunakan prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia PBB," kritik Yang Jianli dalam briefing UN Watch seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (14/10). "Jika ini adalah pemilihan untuk dewan pelanggar hak asasi manusia PBB, akan lebih dari pantas untuk memilih Tiongkok, karena mereka memimpin dunia dalam melanggar hak asasi manusia."
Hal serupa diungkapkan oleh seorang aktivis HAM dari Kuba yang juga merupakan putri almarhum pembangkang Oswaldo Payá, Rosa María Payá. Ia turut mengecam pemilihan Rusia, Tiongkok, hingga Kuba sebagai Anggota Dewan HAM PBB. Pasalnya, penetapan ini akan membuat negara-negara tersebut menggunakan kursi di PBB untuk melindungi impunitas mereka.
"Mereka, memastikan berbagai tuduhan terhadap mereka dan teman-teman kriminal di Venezuela, Tiongkok, Rusia, dan Belarusia tidak makmur," kecam Rosa María Payá. "Kelompok-kelompok ini bertindak dalam geng yang berkonspirasi bersama untuk menutupi fakta dan mengosongkan isi dan efektivitas dewan hak asasi manusia."
Seorang aktivis yang juga telah dua kali diracun oleh Rusia, Vladimir Kara-Murza turut mengecam pemilihan negaranya sebagai Anggota Dewan HAM PBB. Ia menyoroti pelanggaran HAM yang baru saja ditunjukkan oleh Rusia dan diduga telah meracuni pemimpin oposisi di negara tersebut, Alexey Navalny.
"Kami masih heran bahwa Rusia dianggap sebagai kandidat yang sah apalagi kemungkinan besar terpilih," ujar Kara. "Telah dikonfirmasi, bahwa (pemimpin oposisi Rusia) Alexei Navalny telah diracuni oleh agen saraf kelas militer yang sangat terkontrol yang diproduksi oleh Rusia yang telah digunakan selama bertahun-tahun oleh dinas keamanan Rusia, tidak menyisakan keraguan siapa yang berada di belakang serangan ini."
(wk/lian)