Kacau! Dokter Spanyol Mogok Massal Di Tengah Lonjakan Kasus Corona, Kenapa?
Reuters/Juan Medina
Dunia
Pandemi Virus Corona

Setidaknya sebesar 85 persen dari total dokter di Spanyol telah memutuskan melakukan mogok nasional di tengah pandemi virus corona sebagai bentuk protes. Apa sebabnya?

WowKeren - Dokter-dokter di Spanyol baru saja melakukan aksi mogok massal di tengah pandemi virus corona. Aksi mogok nasional itu dilakukan sebagai bentuk protes para dokter kepada pemerintah saat bersiap menghadapi gelombang kedua COVID-19 di Negeri Matador.

Dilansir AFP, aksi mogok nasional tersebut diikuti oleh 85 persen dari 267.000 dokter yang ada di Spanyol. Mereka menuntut pemerintah untuk menciptakan kondisi kerja yang lebih baik hingga meminta pengakuan yang lebih besar.

Meski demikian, acara mogok massal tersebut kebanyakan dilakukan secara simbolis. Artinya, para dokter masih tetap bekerja menemui pasien-pasien mereka di tengah pandemi COVID-19. Mereka tetap masuk agar bisa memenuhi kewajiban layanan minimum sehingga pasien tidak ditinggalkan sendirian.

Peristiwa tersebut menjadi aksi pemogokan nasional pertama para dokter di Spanyol dalam 25 tahun terakhir sejak tahun 1995 silam. Konfederasi Serikat Medis Negara (CESM) menyatakan aksi protes ini akan dilakukan selama 24 jam.


Pada Selasa (27/10) waktu setempat, sekitar 50 dokter berbaju lab putih melakukan aksi protes di luar parlemen di Madrid. Mereka terlihat menerapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan melakukan physical distancing. Para dokter yang berdemo itu banyak memegang poster sepatu bot hitam besar yang hendak menginjak sekelompok petugas kesehatan.

Seorang ahli gastroenterologi yang ikut dalam aksi protes tersebut, Sergio Casabona menjelaskan salah satu keputusan pemerintah yang merugikan para dokter. Ia memprotes keputusan pemerintah yang bisa memindahkan dokter ke layanan rumah sakit lain, terlepas dari spesialisasi mereka, kapan pun diperlukan.

Rupanya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Spanyol beralasan reformasi tersebut diterapkan demi melawan pandem virus corona. Namun, CESM menyebut keputusan itu bagaikan “serangan terbesar” terhadap sistem perawatan kesehatan publik Spanyol.

Berdasarkan laporan otoritas setempat, Spanyol saat ini sedang mengalami lonjakan kasus virus corona setiap harinya. Bahkan, pekan lalu Spanyol menjadi negara Uni Eropa pertama yang melampaui satu juta kasus COVID-19 dengan jumlah kematian mencapai 35.000 korban jiwa.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts