Para peneliti dari Aarhus University, Denmark, melihat sel kekebalan khusus bernama makrofag alveolar (AM) yang ditemukan di paru-paru kita untuk memahami fenomena tersebut.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 04 November 2020 - 16:41 WIB
WowKeren - Data menunjukkan bahwa banyak pasien virus corona (COVID-19) tidak mengalami gejala sama sekali (OTG/asimptomatik). Studi terbaru yang diterbitkan di PLOS Medicine bahkan memperkirakan sebanyak 20 persen infeksi COVID-19 tidak bergejala namun tetap menular. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Melansir Health24, para peneliti dari Aarhus University, Denmark, melihat sel kekebalan khusus bernama makrofag alveolar (AM) yang ditemukan di paru-paru kita untuk memahami fenomena tersebut. Menurut artikel penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, sel AM membersihkan ruang udara dari partikel infeksius yang menghindari pertahanan mekanis saluran pernapasan, seperti saluran hidung.
Setelah itu, peneliti melihat interferon, yakni sekelompok sitokin yang penting dalam melawan virus. Sebagai informasi, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa AM menghasilkan interferon dalam jumlah besar setelah terinfeksi virus pernapasan, seperti influenza.
Studi terbaru juga menunjukkan bahwa produksi interferon di sel epitel yang terinfeksi dapat dihambat oleh COVID-19. Adapun sel AM tersebut diperoleh dari donor yang didiagnosis dengan gangguan paru tidak menular.
Setelah itu, para peneliti Aarhus University memasukkan SARS-CoV-2 ke sel AM dari para pendonor tersebut. Mereka memeriksa aktivasi sistem kekebalan dalam sel-sel tersebut setelah mendapat serangan dari virus corona.
Hasilnya, COVID-19 rupanya dapat menyembunyikan genomnya agar tidak dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa pada beberapa orang, SARS-CoV-2 dapat mencegah materi genomnya dikenali dan tidak menyebabkan produksi interferon.
Hal ini menjelaskan mengapa tidak ada aktivasi sistem kekebalan pada tahap awal infeksi COVID-19. Pada akhirnya, hal ini memungkinkan virus menyebar lebih luas di masyarakat sebelum gejala muncul pada individu. Meski demikian, pihak peneliti juga mengungkapkan bahwa masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami bagaimana virus dapat "bersembunyi" dari sistem kekebalan.
Di sisi lain, COVID-19 yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, sejauh ini telah menjangkit 47,9 juta orang di seluruh dunia. Virus tersebut juga telah menyebabkan kematian 1,2 juta orang.
(wk/Bert)