Belum Selesai Pandemi Corona, Sejumlah Negara Eropa Diserang Flu Burung
Dunia

Wabah diketahui menyebar di Belanda hingga memicu pemusnahan massal terhadap unggas di sana. Sementara itu, ratusan ayam dimusnahkan usai virus terdeteksi di Corsica, Prancis.

WowKeren - Belum selesai pandemi corona menyerang, Eropa kini dihadapkan pada wabah flu burung. Pada Senin (16/11), Prancis dan Denmark telah mengonfirmasi kasus flu burung di negara mereka.

Beberapa hari sebelumnya, wabah diketahui menyebar di Belanda hingga memicu pemusnahan massal terhadap unggas di sana. Sementara itu, ratusan ayam dimusnahkan usai virus terdeteksi di pusat taman di pulau Corsica, Prancis. Lalu di Denmark, lebih dari 25.000 burung akan disembelih setelah virus muncul di bagian barat negara itu.

Sebagai upaya pencegahan agar wabah tidak semakin meluas, Prancis telah mengambil langkah perlindungan nasional dengan memerintahkan pengurungan unggas. Hal ini dimaksudkan untuk mengisolasi unggas-unggas tersebut dari burung liar.

Sementara itu, Denmark telah menangguhkan ekspor telur ayam di luar Uni Eropa. Virus ini memang tidak berbahaya bagi manusia namun bisa menghancurkan sektor pertanian. Sejauh ini, flu burung telah menyebar ke Belgia, Belanda, Rusia, Irlandia, dan Inggris di antara negara-negara lain.


Di Belanda sendiri, sudah ada 200.000 burung yang dimusnahkan. Lalu peternak itik di Prancis sempat terserang wabah ini hingga dua kali, hingga memicu pemusnahan massal yang menimbulkan kerugian hingga ratusan juta euro.

Kendati demikian, pemerintah Prancis menegaskan jika tak perlu takut mengonsumsi makanan apapun. "Konsumsi daging, hati angsa, dan telur serta produk makanan apa pun tidak menimbulkan risiko apa pun bagi manusia," kata kementerian itu.

Pemerintah Denmark mendesak para peternak untuk benar-benar memastikan jika hewan ternak mereka terlindungi dari infeksi. Negara ini juga telah memusnahkan jutaan cerpelai usai ditemukan mutasi virus corona baru dari hewan tersebut. Lebih dari 200 orang dilaporkan telah terinfeksi galur virus corona yang ditemukan pada cerpelai.

Hal ini pun membuat ilmuwan Denmark khawatir. Sebab, mutasi virus itu bersifat kurang sensitif terhadap antibodi tubuh. Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang pengembangan vaksin. Kendati demikian, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut jika perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal tersebut.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait