Peserta Kerumunan Habib Rizieq Justru Tolak Tes Corona, Doni Monardo Angkat Bicara
Twitter/DPPFPI_ID
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Satgas COVID-19 mengungkap upaya masyarakat menghalangi tracing dan tracking usai kerumunan besar simpatisan Habib Rizieq Syihab. Ketua Satgas Doni Monardo ikut mengomentari hal ini.

WowKeren - Klaster COVID-19 yang timbul dari kerumunan hajatan Habib Rizieq Syihab mulai timbul. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pun bekerja keras untuk mengendalikan penyebaran dengan melakukan tracing seluas mungkin.

Namun dalam rapat koordinasi yang digelar pada Minggu (22/11) kemarin terungkap adanya upaya menghalangi petugas dalam melakukan tracing (penelusuran) dan tracking (pelacakan) di klaster-klaster tersebut. "Mereka dihalang-halangi ketika hendak masuk melakukan tracing dan tracking," demikian hasil rapat koordinasi Satgas COVID-19, dikutip dari CNBC Indonesia pada Senin (23/11).

Ketua Satgas COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo pun angkat bicara terhadap situasi tersebut. Doni menyadari betul kesulitan yang dialami petugas di lapangan, karena itulah ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras para petugas.

Doni menyadari diperlukan kerelaan hati masyarakat untuk melakukan swab. Padahal saat ini tes sudah difasilitasi oleh pemerintah. "Tes swab di Puskesmas, tidak dipungut biaya," tegas Doni.

"Sampaikan bahwa kami akan melakukan test massal, dimulai dari keluarga inti yang positif. Ini bagian dari upaya memutus mata rantai penularan COVID-19," imbuh Doni.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu pun berharap agar upaya Satgas bisa diikuti dengan dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat, termasuk para Ketua RT dan RW. Selain itu ia berharap supaya kepala daerah juga mengetatkan izin kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

"Upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. Karenanya perlu kerja sama yang baik dan harmonis," papar Doni. "Semua harus dilakukan dengan pendekatan humanis."

"Cegah dan tangkal sejak dini," tambah Doni. "Jangan sampai kegiatan kerumunan yang melanggar protokol kesehatan terjadi."

Doni juga berharap agar masyarakat bisa bekerja dalam menyelesaikan wabah dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Apalagi karena pemerintah selama ini sudah selalu menerapkan salus populi suprema lex atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

"COVID-19 ini nyata, bukan rekayasa. Korban sudah ribuan, termasuk para tenaga medis," pungkas Doni. "Kita sudah delapan bulan bekerja keras mengendalikan penyebarannya. Tolong jangan mengecewakan hasil kerja keras kami selama ini."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts