Pengembangan Pulau Komodo Disebut Timbulkan Kecemasan Warga Lokal, Benarkah?
Nasional

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi IV DPR RI, Senin (23/11), terungkap jika pembangunan kawasan wisata alam di Taman Nasional Komodo rupanya menimbulkan kekhawatiran penduduk setempat.

WowKeren - Pembangunan kawasan wisata alam di Taman Nasional (TN) Komodo menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Hal ini bermula sejak beredarnya foto seekor komodo yang tampak menghadang truk yang akan melakukan pembangunan tersebut.

Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi pun mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak menyingkirkan penduduk setempat atau lokal. "Ini hal yang harus jadi pokok perhatian utama, jangan sampai pengembangan pembangunan, pengembangan potensi wisata menyingkirkan penduduk setempat," kata Dedi saat membuka Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI dengan akademisi, Senin (23/11).

Dedi menjelaskan, pembangunan pusat pariwisata tersebut membuat penduduk asli merasa khawatir mereka tidak bisa berjualan lagi. Sebab, barang yang dijualnya menjadi tidak sesuai dengan konsumen pariwisata kelas premium.

Selain itu, akses mobilitas mereka yang menjadi nelayan dan pemandu wisata menjadi sempit. Pembangunan kawasan pariwisata dengan program investasi dikhawatirkan membuat Pulau Komodo, Rinca dan pulau lain di sekitarnya steril untuk penduduk lokal. "Mereka khawatir tergusur dari daerahnya karena pengembangan wisata premium tidak bersentuhan dengan penduduk lokal," ujarnya.


Penduduk lokal merupakan komunitas masyarakat yang biasa bergaul dengan komodo. Bahkan, mereka menganggap komodo adalah saudara kembarnya.

Mereka merasa sudah berkorban demi kelestarian taman nasional Pulau Komodo. "Mereka tidak menanam pohon, tidak berburu binatang, sehingga mereka fokus sebagai nelayan dan pelaku usaha kecil dengan pendapatan rendah, tapi mereka rela melakukan itu demi komodo," terang politisi Golkar tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan prioritas pembangunan bagi penduduk lokal. Prioritas pembangunan tersebut antara lain, infrastruktur publik, air bersih, perkampungan adat, jalan kampung, pelabuhan untuk masyarakat kecil, pelayanan puskesmas, rumah sakit terapung dan kapal ambulans.

"Pendidikan anak-anak untuk pariwisata pun harus diprioritaskan," tandasnya. "Sehingga anak-anak bisa menjadi pegawai yang terdidik."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts