Seorang Tulari 4 Penumpang Pesawat Meski Hasil Tes PCR Negatif COVID-19, Kok Bisa?
Dunia
Pandemi Virus Corona

Kasus tersebut terungkap usai otoritas setempat melakukan penelusuran dan analisa DNA. Penumpang yang dimaksud telah terjangkiti virus corona, namun tidak menunjukkan gejala

WowKeren - Selandia Baru merupakan salah satu negara yang memberlakukan aturan ketat terhadap pendatang di wilayahnya. Guna menekan penyebaran COVID-19, negara ini mengharuskan pelancong yang tiba untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Pada Jumat (20/11) pekan lalu, pejabat kesehatan setempat merilis sebuah studi kasus baru mengenai risiko melakukan penerbangan jarak jauh selama pandemi. Laporan terbaru menyebut jika seorang yang baru saja melakukan penerbangan dari Dubai ke Selandia Baru telah menularkan virus ke empat orang lainnya selama 18 jam penerbangan.

Padahal, penumpang tersebut sebelumnya sudah menjalani tes PCR 48 jam sebelum keberangkatan. Dan hasilnya pun negatif COVID-19. Penerbangan yang mengangkut 86 orang tersebut mencatat 7 kasus terkait corona.


"Dengan menggabungkan informasi tentang perkembangan penyakit, dinamika perjalanan, dan analisis genom, kami menyimpulkan bahwa setidaknya empat peristiwa penularan SARS-CoV-2 dalam penerbangan," kata studi tersebut seperti dilansir dari Washington Post, Rabu (25/11). "Empat dari enam urutan genom ini berasal dari Swiss, negara asal kasus indeks yang dicurigai."

Adapun kasus tersebut terungkap usai otoritas setempat melakukan penelusuran dan juga berkat analisa DNA. Penumpang yang dimaksud telah terjangkiti virus corona, namun tidak menunjukkan gejala.

Yang membuat kasus kali ini unik adalah terkait prosedur Selandia Baru untuk pendatang. Pasalnya, semua penumpang bahkan telah dimonitor dan dites ulang usai 14 hari masa karantina. Singkat kata, kasus ini menunjukkan sulitnya menekan penyebaran corona bahkan jika hasil tes PCR negatif corona sekali pun.

Terlebih lagi, penularan rupanya dapat terjadi meski seseorang memakai masker maupun sarung tangan selama penerbangan. Kendati demikian, spesialis penyakit menular di Universitas Alabama di Birmingham yang telah meninjau laporan itu, David Freedman, menilai jika durasi penerbangan bisa saja turut andil dalam kasus ini. "Akan sangat sulit bagi orang untuk tetap menggunakan masker selama 18 jam penuh," ujarnya masih dilansir Washington Post.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts