Pabrik Sarung Tangan Lateks Terbesar Dunia Tutup Usai Ribuan Pegawai Terpapar COVID-19
Unsplash/Clay Banks
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pabrik sarung tangan lateks terbesar dunia, Top Glove, di pabrik yang ada di Malaysia, terpaksa menghentikan kegiatan produksinya sementara lantaran ribuan pegawainya terinfeksi virus corona.

WowKeren - Selama pandemi COVID-19, aktivitas industri terpaksa terganggu. Aktivitas produksi biasanya dihentikan sementara demi mengurangi penularan virus di area pabrik.

Hal serupa juga terjadi pada industri pembuat sarung tangan lateks terbesar dunia, Top Glove, di pabrik yang ada di Malaysia. Akibat infeksi virus corona yang terjadi hampir pada 2.500 karyawannya, perusahaan terpaksa menutup lebih dari setengah pabrik dari total 41 pabrik yang dimilikinya di Malaysia.

Dikutip dari BBC, Rabu (25/11), pihak berwenang menyatakan sebanyak 28 pabrik akan ditutup secara bertahap demi mengendalikan penularan yang terjadi. Pada Senin (23/1), Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan adanya peningkatan kasus infeksi dalam jumlah yang tajam di area pabrik dan asrama Top Glove berada.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah menyebut dari total 5.767 pekerja yang sudah diperiksa, 2.453 di antaranya dinyatakan positif mengidap COVID-19. Diketahui, mayoritas pekerja tersebut berasal dari Nepal.

Selama ini para pekerja tersebut bekerja lebih keras melayani permintaan pasar akan sarung tangan lateks sebagai salah satu alat perlindungan diri, terutama sejak pandemi COVID-19 mendera. Namun kondisi kerja mereka dikhawatirkan, karena sebagai pekerja imigran, mereka tinggal di kompleks asrama yang padat.


"Semua yang dites positif telah dirawat di rumah sakit dan kontak dekat mereka telah dikarantina untuk menghindari penularan kepada pekerja lain," kata Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah. Hingga kini belum diketahui dengan pasti kapan pabrik mulai akan ditutup.

Top Gloves menjadi sorotan global, karena memperoleh laba yang tinggi di tahun ini. Namun di balik itu, ada juga tuduhan diberlakukannya praktik eksploitasi buruh di perusahaan itu.

Saham Top Glove di lantai bursa turun sebanyak 7,5 persen setelah rencana penutupan pabrik diumumkan pada Selasa (24/11). Namun itu tidak seberapa, karena sepanjang tahun ini saham perusahaan telah melonjak lebih dari empat kali lipat.

Direktur Eksekutif Tenaganita, sebuah LSM yang berbasis di Kuala Lumpur, Glorene Das, mengatakan ada beberapa perusahaan Malaysia yang bergantung pada tenaga kerja migran gagal memenuhi kebutuhan dasar para pekerjanya.

"Para pekerja ini rentan (terinfeksi COVID-19), karena mereka tinggal bersama dan bekerja di tempat yang padat dan melakukan pekerjaan yang tidak memungkinkan untuk mempraktikkan jarak sosial yang ketat," kata Glorene Das. "Selama ini pengusaha memiliki tanggung jawab yang besar terhadap mereka, tetapi kami mendengar mereka tidak menyediakan makanan yang cukup bahkan menahan gaji para pekerjanya."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts