Buka Sekolah Bikin Panen Kasus COVID-19, IDAI Minta Wacana Belajar Tatap Muka Dicabut
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B Pulungan meminta Kemendikbud membatalkan rencana mengizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah di semua zona pada awal 2021.

WowKeren - Pemerintah telah mengizinkan untuk menggelar pembelajaran tatap muka kembali pada Januari 2021 mendatang. Sejumlah daerah pun telah mempersiapkan simulasi untuk kembali membuka sekolah.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membatalkan rencana mengizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah di semua zona pada awal 2021. Pasalnya, pembelajaran tatap muka dinilai berisiko di tengah lonjakan kasus COVID-19.

Meski kondisi tiap daerah berbeda-beda, dia mengatakan pembelajaran secara langsung tetap berisiko terhadap rutinitas keseharian anak dan keluarga. "Sedapatnya keputusan membuka kembali sekolah dalam waktu singkat dihindari karena berdampak pada rutinitas keseharian anak dan keluarga," Ketua Umum IDAI, Aman B Pulungan dalam keterangannya, Selasa (1/12).

IDAI mencatat per 29 November, angka kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia masih cukup tinggi dengan persentase mencapai 3,2 persen dari total angka kematian. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kematian anak karena COVID-19 tertinggi dibanding negara-negara se-Asia Pasifik.

Lebih lanjut menurut IDAI, satu dari sembilan kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia merupakan anak dengan rentang usia 0-18 tahun. Aman menyebut, anak yang tidak bergejala atau hanya bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan terhadap lingkungannya.


"Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala COVID-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat akibat terinfeksi COVID-19 yang ringan sebelumnya," kata Aman.

Fakta-fakta itulah yang kemudian membuat IDAI menilai pembelajaran tatap muka di sekolah berisiko tinggi meningkatkan angka kasus positif. IDAI juga berkaca dari sejumlah negara yang mengalami lonjakan kasus positif pada anak usai pembukaan sekolah seperti Korea Selatan, Prancis, Amerika Serikat, dan Israel.

"Semua warga sekolah, termasuk guru, dan staf dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan COVID-19," tuturnya. Di luar itu, IDAI mendapati fakta bahwa tingkat stres pada anak juga meningkat selama 10 bulan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi.

Hal ini juga membutuhkan perhatian dan penanganan khusus dari banyak pihak. Selain itu, IDAI pun memberikan imbauan kepada para orang tua untuk memberi edukasi penerapan protokol kesehatan pada buah hati mereka.

"Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi, melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar, serta terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang-ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan," tutupnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts