Ribuan Pekerja Kena Corona, Pabrik Sarung Tangan Terbesar Dunia Dituntut
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pemerintah Malaysia akan menuntut pabrik sarung tangan Top Glove Corp karena dinilai memperlakukan pekerja dengan buruk dan tak menerapkan prokes sehingga pekerjanya tepapar COVID-19.

WowKeren - Pabrik pembuat sarung tangan lateks terbesar dunia, Top Glove yang berlokasi di Malaysia terpaksa ditutup sementara lantaran hampir 2.500 karyawannya terpapar virus corona (COVID-19).

Tak hanya ditutup sementara, Pemerintah Malaysia pun disebutkan bakal menuntut pabrik sarung tangan Top Glove Corp karena dinilai memperlakukan pekerja dengan buruk. Selain itu pabrik ini juga tidak memperhatikan protokol kesehatan, sehingga para pekerja terpapar virus Corona.

Dikutip dari Reuters, Rabu (2/12), Departemen Tenaga Kerja direktorat Sumber Daya Manusia (SDM) telah melakukan penyelidikan terkait ruangan pekerja di pabrik tersebut. Pabrik sarung tangan ini diminta untuk meningkatkan standar ruangan untuk pekerja hingga 31 Desember tahun ini.


Direktur Jenderal Departemen Tenaga Kerja Semenanjung Malaysia Asri Ab Rahman mengungkapkan jika pemerintah telah menemukan jika akomodasi yang diberikan pabrik ke pegawai sangat sempit, berventilasi buruk hingga tak ada area istirahat dan dapur. "Kementerian khawatir dengan para pekerja. Hal ini ditakutkan menjadi sumber penyebaran penyakit," ujar Asri Ab Rahman dilansir Reuters, Rabu (2/12).

Seperti yang telah diketahui, pada akhir bulan lalu, Top Glove memutuskan untuk menutup lebih dari setengah pabrik dari total 41 pabrik yang dimilikinya di Malaysia karena menjadi klaster baru penyebaran COVID-19. Sebanyak 28 pabrik akan ditutup secara bertahap demi mengendalikan penularan yang terjadi.

Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah menyebut dari total 5.767 pekerja yang sudah diperiksa, 2.453 di antaranya dinyatakan positif mengidap COVID-19. Diketahui, mayoritas pekerja tersebut berasal dari Nepal.

Kondisi para pekerja migran itu pun mengkhawatirkan lantaran tinggal di kompleks asrama yang padat. "Semua yang dites positif telah dirawat di rumah sakit dan kontak dekat mereka telah dikarantina untuk menghindari penularan kepada pekerja lain," kata Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah. Hingga kini belum diketahui dengan pasti kapan pabrik mulai akan ditutup.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts