Dari jumlah tersebut, mayoritas pekerja media adalah kaum laki-laki. Namun pada 2020 jumlah perempuan yang ditahan meningkat sepertiganya menjadi 42 orang.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 15 Desember 2020 - 16:45 WIB
WowKeren - Sedikitnya ada 387 pekerja media yang ada di seluruh dunia dilaporkan telah dijebloskan ke penjara per 1 Desember 2020. Data ini disampaikan oleh LSM yang memperjuangkan Kebebasan Pers Reporters Without Border (RSF) cabang Jerman.
Ratusan jurnalis tersebut berasal dari beberapa negara di dunia. Negara yang paling banyak memenjarakan jurnalis adalah Tiongkok yakni sebanyak 117 orang. Lalu diikuti Arab Saudi (34), Mesir (30), Vietnam (28) dan Suriah (27).
Dari jumlah tersebut, mayoritas pekerja media adalah kaum laki-laki. Namun pada 2020 jumlah perempuan yang ditahan meningkat menjadi 42 orang. Lebih dari 130 anggota pers, baik yang merupakan jurnalis ataupun pekerja media telah ditangkap karena telah melaporkan berita tentang krisis pandemi corona. Jumlah ini merupakan akumulasi sejak pandemi mulai menyebar awal tahun lalu.
Penangkapan ini menunjukkan jika kebebasan pers tengah terancam. "Tingginya jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia menyoroti ancaman saat ini terhadap kebebasan pers," kata Katja Gloger, kepala kantor RSF Jerman seperti dilansir dari Deutsche Welle, Selasa (15/12).
Ia pun mengecam respons pemerintah terhadap protes yang muncul terkait krisis penanganan COVID-19 dengan tindakan represif semacam itu. Jurnalis dianggap sebagai "pembawa berita buruk". "Di balik setiap kasus ada nasib seseorang yang harus disidang dengan tuntutan pidana, dipenjara dalam waktu lama hingga sering dianiaya karena tidak tunduk pada sensor dan represi," tegasnya.
Salah satu yang terlibat dalam laporan tahunan Reporters Without Borders, Sylvie Ahrens-Urbanek, juga mengungkap salah satu contoh penangkapan terhadap jurnalis investigasi Hopewell Chin'ono dari Zimbabwe. Jurnalis tersebut ditangkap karena telah melaporkan mahalnya penjualan obat COVID-19 oleh pemerintah. Ia kemudian dibebaskan setelah dipenjara selama satu setengah bulan.
RSF juga mencatat 54 pekerja media diculik di Suriah, Irak, dan Yaman. Beberapa di antara mereka tak diketahui nasibnya hingga kini. Pada 2020 saja ada 4 orang jurnalis yang dilaporkan hilang, yang mana kasus ini terjadi di Irak, Kongo, Mozambik, dan Peru.
(wk/zodi)