Pandemi Belum Usai, 21% Perawat RS Penanganan COVID-19 di Jepang Mengundurkan Diri
Dunia

Di tengah situasi darurat, setidaknya ada 21 persen perawat di rumah sakit yang menangani pasien COVID-19 di Jepang mengundurkan diri. Hal ini tentunya menjadi kekhawatiran pemerintah Jepang.

WowKeren - Sebanyak 21 persen perawat di rumah sakit yang menangani pasien COVID-19 di Jepang mengundurkan diri. Dalam sebuah survei yang diumumkan pada Selasa (22/12) tersebut menunjukkan bahwa alasan utamanya adalah akibat kondisi pekerjaan yang berubah, risiko infeksi, dan diskriminasi dalam pekerjaan mereka.

“Gelombang terbesar COVID-19 tengah memuncak, jadi kelelahan mental dan fisik antara para perawat pun sudah mencapai titik tertinggi,” ujar Toshiko Fukui, kepala Japanese Nursing Association (JNA) yang melakukan survei tersebut pada Asahi Shinbun.

Survei tersebut telah mewancarai sejumlah direktur perawat di 8.300 rumah sakit di seluruh Jepang dan 38.000 perawat pada bulan September lalu. JNA telah menerima respon valid dari 2.765 rumah sakit atau 34% dari jumlah di atas.

Dari jumlah tersebut, 1.138 (41%) rumah sakit, termasuk institusi medis khusus penanganan penyakit menular, dilaporkan menerima pasien COVID-19. Sementara itu, 1.627 atau 59 persen sisanya tidak menerima pasien COVID-19.

Sekiranya ada 15 persen dari total rumah sakit yang menerima pasien COVID-19 pun melaporkan bahwa perawat mereka menundurkan diri karena adanya perubahan dalam pekerjaan mereka, seperti berpindah-pindah dan adanya risiko terpapar penyakit mematikan tersebut. 57% persen perawat yang menjawab survei tersebut pun mengatakan bahwa mereka mengurus kasus yang berhubungan dengan COVID-19.


Terkait pengalaman setelah gelombang pertama virus, 21% mengatakan bahwa mereka mendapat diskriminasi dan pandangan buruk karena keterlibatannya dengan virus tersebut dengan 28% mengatakan bahwa keluarganya dihina oleh orang lain, sementara 20% mengatakan bahwa mereka dilecehkan oleh para pasien.

Selain itu, 8% perawat mengatakan bahwa keluarga mereka diminta untuk tak datang ke tempat kerja oleh atasan mereka dan 15% perawat yang mengatakan bahwa mereka mendapat diskriminasi dan pandangan buruk melaporkan bahwa mereka ingin mendapat pekerjaan di luar merawat orang lain, sementara 14% mengatakan mereka tak ingin bekerja di bidang apapun.

Fukui mengaku khawatir apabila semakin banyak perawat yang mengundurkan diri di akhir tahun ini dimana berbagai institusi medis tutup karena libur panjang. “Para perawat bekerja dengan tingkat tanggung jawab dan kesabaran yang tinggi, namun mereka telah mencapai batasnya,” ujar Fukui.

“Dukungan terbaik bagi para perawat adalah dengan tidak tertular," sambungnya. "Saya mohon, terapkan langkah pencegahan COVID-19 seketat dan setegas mungkin."

Hingga kini, Negeri Sakura itu telah mencatat lebih dari 211 ribu kasus COVID-19 dengan kematian 2.967 dan yang sembuh lebih dari 175 ribu. Namun, baru-baru ini Menteri Kesehatan Jepang mengonfirmasi adanya 5 kasus baru varian virus corona yang ditemukan di Inggris.

Dari kelima kasus tersebut, seorang pria berusia 60 tahun mengeluhkan gejala kelelahan, sementara 4 orang lainnya tanpa gejala. Kelima orang tersebut langsung dikarantina setiba di bandara di Jepang, dan pengawasan di perbatasan pun kembali diketatkan.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait