Terkena COVID-19 Saat Bayi Bisa 'Rusak' Sistem Kekebalan Tubuh Sampai Dewasa, Ini Penjelasannya
Pixabay
Health
Pandemi Virus Corona

COVID-19 menimbulkan gejala dan komplikasi yang berbeda-beda sesuai dengan individu yang terinfeksi. Seperti misal pada anak-anak dan bayi yang bisa berujung pada timbulnya MIS-C, apa itu?

WowKeren - Bukan cuma orang dewasa dan lansia, anak-anak dan bayi juga sangat berpotensi terinfeksi virus SARS-CoV-2. Berbagai riset menunjukkan infeksi virus Corona pada bayi dan anak-anak hanya menimbulkan gejala klinis yang ringan hingga sedang.

Namun ada satu gejala klinis jangka panjang yang wajib diwaspadai oleh orang tua jika bayi atau anaknya terkena COVID-19. Situasi ini disebut sebagai multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) yang mempengaruhi sistem kekebalan dan organ-organ tubuh sang pasien cilik sampai ia dewasa.

Sindrom ini membuat pasien cilik mengalami peradangan atau inflamasi parah pada organ dan jaringan tubuhnya, misalnya jantung, paru-paru, pembuluh darah, hingga kulit. Gejala yang ditimbulkan pun berbeda tergantung di mana sindrom ini memengaruhi.

Dikutip dari laman resmi Mayo Clinic Amerika Serikat, MIS-C masuk golongan sindrom karena berupa sekelompok gejala klinis yang tidak jelas apa penyebab dan faktor risikonya. Hanya saja selama ini pasien COVID-19 anak-anak dan bayi cenderung mengembangkan sindrom MIS-C yang berpengaruh sampai dewasa.

Karena itulah perlu pengamatan serius terhadap gejala yang mengarah dengan timbulnya MIS-C ini. Seperti misalnya demam yang sampai 24 jam lebih, muntah, diare, nyeri pada perut, ruam kulit, hingga kelelahan yang tak wajar.


Kemudian juga jantung berdetak sangat cepat, napas yang tersengal, dan mata merah. Kemudian terjadi pembengkakan atau kemerahan pada bibir, lidah, tangan, dan/atau kaki. Lalu patut diwaspadai pula bila anak-anak atau bayi mengalami sakit kepala atau pusing dan pembesaran pada nodus limpa.

Pada bayi sendiri, dilansir dari Times of India, ada setidaknya 5 gejala yang harus sangat diwaspadai. Yang pertama suhu tinggi atau demam sebagai tanda adanya infeksi di dalam tubuh lantaran jarang ada bayi yang mengembangkan gejala batuk ketika terinfeksi COVID-19.

Lalu kulit berbintik-bintik tak biasa yang harus menjadi alarm untuk segera melakukan tes COVID-19. Kemudian bayi yang mual-mual, apalagi diimbangi dengan demam dan sesak napas, wajib harus langsung diperiksakan.

Bibir atau kulit yang bengkak juga bisa menjadi gejala COVID-19 pada bayi. Bibir bayi juga bisa membiru bila COVID-19 mulai menyebabkan hipoksia. Sedangkan gejala terakhir adalah nyeri otot yang biasa ditandai dengan masalah tidur sampai sering menangis.

Namun yang pasti, bayi dengan gejala COVID-19 masih sangat disarankan untuk menerima ASI. Sejauh ini belum ada bukti bahwa virus bisa ditularkan lewat ASI selama sang ibu tetap mengikuti protokol kesehatan dan atas pengawasan dokter.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts