Cerita Miris Priyanka Chopra Jadi Korban Bullying Rasisme Saat Sekolah di AS
Getty Images
Selebriti

Aktris 'Baywatch' tersebut diketahui pindah ke AS ketika dia berusia 12 tahun untuk tinggal bersama keluarga besarnya, dan terdaftar di sekolah menengah setempat.

WowKeren - Priyanka Chopra mengaku pernah berjuang untuk menemukan identitasnya sendiri sebagai seorang imigran India yang tinggal di Amerika setelah mengalami perundungan rasis selama masa remajanya.

Aktris "Baywatch" tersebut diketahui pindah ke AS ketika dia berusia 12 tahun untuk tinggal bersama keluarga besarnya, dan terdaftar di sekolah menengah setempat, di mana dia mengalami masa-masa sulit selama tahun-tahun awalnya.

"Saya tersinggung. Jauh di dalam, hal itu mulai menggerogoti Anda. Saya masuk ke dalam cangkang. Saya seperti, 'Jangan lihat saya. Saya hanya ingin tidak terlihat.' Kepercayaan diri saya hilang. Saya selalu menganggap diri saya orang yang percaya diri, tetapi saya sangat tidak yakin di mana saya berdiri, tentang siapa saya," kenang istri Nick Jonas tersebut.

Priyanka dan kerabatnya pindah dari New York City ke Indianapolis, Indiana, sebelum menetap di Newton, Massachusetts, di mana pengalamannya dengan bullying semakin parah.

"Sejujurnya, saya bahkan tidak menyalahkan kota. Saya hanya berpikir gadis-gadislah yang, pada usia itu, hanya ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan," kata sang aktris. "Sekarang, di sisi lain dari usia 35, saya dapat mengatakan bahwa itu mungkin berasal dari tempat mereka merasa tidak aman. Tetapi pada saat itu, saya menganggapnya sangat pribadi."

Priyanka merasakan pengalaman itu begitu mengerikan sehingga dia memutuskan untuk kembali ke India, di mana dia bisa "menyembuhkan" dan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.


"Saya sangat diberkati sehingga ketika saya kembali ke India, saya dikelilingi oleh begitu banyak cinta dan kekaguman akan siapa saya. Kembali ke India menyembuhkan saya setelah pengalaman itu di sekolah menengah," lanjutnya.

"Di Amerika, saya berusaha untuk tidak menjadi berbeda. Saya mencoba menyesuaikan diri dan saya ingin tidak terlihat. Ketika saya pergi ke India, saya memilih untuk menjadi berbeda," paparnya.

Aktris "The Sky is Pink" tersebut membuka lebih jauh tentang pengalamannya dalam memoarnya yang akan datang, "Unfinished", yang ingin ia tulis untuk membantu orang lain dalam situasi serupa.

"Rasa tak percaya diri akan berkurang segera setelah Anda membicarakannya dengan seseorang yang Anda percayai: Terapis, konselor. Saya merasa banyak orang menghabiskan waktu mereka saat mereka merasa gelap (dalam isolasi). Itu hal terburuk yang harus dilakukan, adalah merasa sedih sendiri," terangnya.

"Kesedihan itu sangat menggoda. Itu menyedotmu dan kamu ingin berkubang di dalamnya karena itu terasa nyaman dan hangat - dan cahaya terkadang keras. (Tapi) kamu harus melihatnya, kamu menyipitkan mata. (Cahaya itu) banyak, tapi itu memberi Anda kehidupan. Itu memberi Anda kegembiraan."

"Kita memiliki pilihan, sebagian besar, untuk keluar dari kegelapan sendiri. Cara terbaik yang saya temukan untuk melakukannya adalah berbicara dengan orang-orang yang peduli," pungkasnya.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts