Diketahui, kini ada sekitar 740 ribu pengungsi etnis Muslim Rohingya di Bangladesh, mereka kabur dari persekusi yang dilakukan militer Myanmar sejak 2017 lalu.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 02 Februari 2021 - 14:50 WIB
WowKeren - Militer Myanmar yang disebut sebagai Tatmadaw diketahui telah menahan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan sejumlah tokoh pemimpin senior lain pada Senin (1/2) lalu. Panglima tertinggi militer Myanmar, Min Aung Hlaing, lantas mengambil alih semua kekuasaan negara untuk periode ini dan memberlakukan keadaan darurat selama satu tahun.
Kabar Suu Kyi yang dikudeta militer Myanmar ini rupanya disambut dengan gembira oleh para pengungsi Rohingya di Bangladesh. Diketahui, kini ada sekitar 740 ribu pengungsi etnis Muslim Rohingya di Bangladesh, mereka kabur dari persekusi yang dilakukan militer Myanmar sejak 2017 lalu.
Nama Suu Kyi sendiri sempat menjadi buah bibir dunia internasional terkait etnis Muslim Rohingya ini. Pasalnya, ia membela militer Myanmar terkait tuduhan upaya pembersihan etnis Rohingya dalam persidangan Mahkamah Pidana Internasional di Belanda.
Suu Kyi yang notabene merupakan peraih Nobel Perdamaian 1991 dianggap tutup telinga atas penderitaan etnis Muslim Rohingya. Kabar penahanan Suu Kyi kemarin pun langsung mendarat di telinga ratusan ribu warga Rohingya di Bangladesh.
Pemimpin warga Rohingya di pengungsian, Farid Ullah, menyebut kabar tersebut sebagai kabar gembira. "Dia adalah alasan di balik penderitaan kami. Jadi kenapa kami tidak merayakan ini?" tutur Ullah dilansir AFP, Selasa (2/2).
Sementara itu, seorang pemuka masyarakat Rohingya yang bernama Mohammad Yusuf juga bersukacita atas kondisi yang menimpa Suu Kyi saat ini. "Dia pernah menjadi harapan terakhir kami, tapi nyatanya dia mengacuhkan penderitaan kami dan mendukung genosida terhadap Rohingya," ujar Yusuf.
Warga Rohingya lain, Mirza Ghalib, bahkan mengungkapkan bahwa ada sejumlah pengungsi yang menggelar doa usai menerima kabar kudeta tersebut. Mirza bahkan menyebut apabila diizinkan, mereka bisa saja menggelar pawai untuk merayakan situasi tersebut.
"Beberapa orang dari kami bahkan sampai menggelar doa khusus menyambut 'keadilan' yang diberikan kepada sang peraih Nobel," terang Mirza. "Jika pengelola pengungsian mengizinkan kami menggelar perayaan, maka kalian akan melihat ribuan orang Rohingya keluar dan menggelar pawai."
Meski demikian, ada juga warga Rohingya yang mengutuk kudeta di Myanmar tersebut. Pasalnya, pelaku kudeta tersebut adalah sosok di balik persekusi etnis Rohingya, yaitu Min Aung Hlaing. "Kami Rohingya mengutuk keras tindakan keji membunuh demokrasi ini," pungkas pemimpin masyarakat Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh, Dil Mohammed, dilansir Reuters.
(wk/Bert)