Jangan pernah lelah patuhi prokes COVID-19! Penelitian terbaru mengungkap bukti virus corona yang berpotensi memicu kerusakan sperma hingga kemandulan. Ini penjelasannya.
- Ruth Meliana
- Selasa, 02 Februari 2021 - 18:37 WIB
WowKeren - Penelitian mengenai gejala dan dampak terinfeksi virus corona terus bermunculan. Salah satunya adalah penelitian mengenai COVID-19 yang tidak hanya menyerang sejumlah organ, namun juga mempengaruhi kualitas sperma seseorang.
Dilansir dari jurnal Reproduction, peneliti menemukan bukti kasus parah dimana infeksi virus corona telah meningkatkan kematian sel sperma. Tak hanya itu, virus corona juga menyebabkan peradangan dan stress oksidatif sehingga sperma menjadi rusak. Kondisi ini akan menurunkan kesuburan yang bisa menyebabkan kemandulan.
"Laporan ini memberikan bukti langsung pertama bahwa infeksi COVID-19 merusak kualitas air mani dan berdampak pada reproduksi pria,” kata studi tersebut seperti dilansir dari CNN.
Hasil penelitian ini diambil setelah melakukan pengamatan yang melibatkan 105 pria subur tanpa virus corona dan 84 pria subur yang positif COVID-19. Air mani mereka kemudian dianalisis pada interval 10 hari selama 60 hari.
Hasil analisis mengungkapkan peningkatan signifikan pada peradangan dan stres oksidatif pada sel sperma milik pria dengan COVID-19. Konsentrasi, mobilitas, dan bentuk sperma mereka juga dipengaruhi secara negatif oleh virus corona dibandingkan dengan pria sehat tanpa COVID-19.
”Sakit akibat virus apa pun seperti flu dapat menurunkan jumlah sperma Anda untuk sementara waktu (kadang-kadang menjadi nol) selama beberapa minggu atau bulan,” kata Dr. Channa Jayasena, konsultan endokrinologi reproduksi dan andrologi di Imperial College London. “Ini menyulitkan untuk mengetahui seberapa banyak pengurangan yang diamati dalam penelitian ini khusus untuk COVID-19 daripada hanya karena sakit.”
Pria yang terinfeksi virus corona mengalami peradangan dan stres oksidatif dalam sel sperma yang meningkat secara signifikan lebih dari 100 persen dibandingkan dengan kontrol sehat. Lalu pengendapan sperma berkurang 516 persen, mobilitas berkurang 209 persen, dan bentuk sel sperma berubah 400 persen.
Peneliti mengungkapkan kondisi ini mirip dengan oligoasthenoteratozoospermia, yang merupakan salah satu penyebab paling umum dari subfertilitas pada pria. Tingkat keparahan infeksi juga merupakan faktor yang berkontribusi signifikan dalam mengubah kesehatan sperma.
”Efek pada sel sperma ini dikaitkan dengan kualitas sperma yang lebih rendah dan potensi kesuburan yang berkurang,” kata pemimpin peneliti Behzad Hajizadeh Maleki, mahasiswa doktoral di Universitas Justus Liebig Giessen di Hesse, Jerman. “Meskipun efek ini cenderung meningkat dari waktu ke waktu, namun tetap secara signifikan dan abnormal lebih tinggi pada pasien COVID-19, dan besarnya perubahan ini juga terkait dengan tingkat keparahan penyakit.”
(wk/lian)