Gerah Tak Boleh Ada Pelanggan di Masa Pandemi, Restoran di Belgia Ini 'Layani' Boneka dan Manekin
Dunia

Berdasarkan situs web informasi virus corona Belgia, restoran akan ditutup hingga 1 Maret 2021 mendatang. Restoran hanya diizinkan untuk melayani menu bawa pulang (takeaway) atau pengiriman makanan.

WowKeren - Seorang pemilik restoran di Rixensart, Belgia, mulai menyediakan minuman untuk boneka dan manekin. Pemilik restoran tersebut, Therese Mahieu, mulai melayani boneka dan manekin untuk memprotes kebijakan pembatasan di masa pandemi virus corona (COVID- 19).

Melansir Reuters, restoran bernama Chez Therese tersebut telah ditutup sejak Oktober 2020 lalu karena kebijakan pembatasan di negara tersebut. Mahieu sang pemilik lantas mendandani boneka-boneka yang terbuat dari balon tersebut dan memakaikan topi, syal, kaus, serta pakaian lain.

Setelah itu, boneka dan manekin tersebut diletakannya di meja dan bar restoran, layaknya pelanggan, dan disajikan anggur merah. Menurut Mahieu, boneka tersebut "memberinya rasa kebersamaan" yang telah hilang dari Chez Therese sejak pelanggan berhenti datang.

Berdasarkan situs web informasi virus corona Belgia, restoran akan ditutup hingga 1 Maret 2021 mendatang. Restoran hanya diizinkan untuk melayani menu bawa pulang (takeaway) atau pengiriman makanan. Mereka juga sudah harus tutup pukul 10 malam.


Di sisi lain, Belgia baru saja mencatat peningkatan kasus positif COVID-19 di kalangan anak-anak usia 10 tahun ke bawah. Juru bicara antarfederal untuk penanganan COVID-19 di Belgia, Yves Van Laethem, mengungkapkan pada Jumat (29/1) bahwa angka peningkatan aktualnya mencapai 128 persen.

Sementara itu, peningkatan penularan COVID-19 di kalangan remaja Belgia mencapai 41 persen. "Saat ini di Belgia, tiga perempat dari kasus baru yang terdeteksi berkaitan dengan anak-anak atau remaja," ungkap Laethem.

Peningkatan angka penularan ini dipicu oleh skala kampanye pemeriksaan yang difokuskan pada klaster-klaster sekolah. Menurut Laethem, sebanyak 21 persen penularan COVID-19 terjadi di sekolah, sepertiga di panti jompo, dan seperempat (26 persen) di perusahaan-perusahaan.

Belgia sendiri telah meluncurkan kampanye vaksinasi pada 28 Desember 2020 dengan menggunakan vaksin corona buatan Pfizer/BioNTech. Hingga 26 Januari, Badan Federal untuk Produk Kesehatan dan Obat-obatan Belgia melaporkan 262 efek samping merugikan dari vaksin Pfizer dan 37 di antaranya dianggap sebagai kasus serius.

"Di antara efek samping serius itu, 14 orang meninggal dunia setelah menerima vaksin Pfizer," ungkapnya. "Semua pasien yang meninggal ini berusia lebih dari 70 tahun dan lima di antaranya berusia lebih dari 90 tahun."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait