Eks KKM KRI Nanggala-402 Duga Insiden Hilang Kontak Terjadi Gara-Gara Berangkat Terlalu Pagi
Instagram/ryanboedi
Nasional

Sebagai mantan Kepala Kamar Mesin (KKM) KRI Nanggala-402, Laksda TNI (Purn.) Frans Wuwung pun ikut membeberkan analisisnya mengenai kapal selam yang kini hilang kontak itu.

WowKeren - 72 jam menjadi tenggat waktu habisnya cadangan oksigen di dalam kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak sejak Rabu (21/4). Tenggat waktu itu sendiri jatuh pada Sabtu (24/4) pagi tadi, namun KRI Nanggala-402 hingga kini pun belum ditemukan.

Perihal tenggat waktu cadangan oksigen ini rupanya dibantah oleh mantan Kepala Kamar Mesin KRI Nanggala-402, Laksamana Muda (Purnawirawan) Frans Wuwung. Pensiunan TNI AL dengan gelar bintang dua ini sendiri bertugas di kapal selam tersebut pada 1985 lalu.

Ia memang membenarkan cadangan oksigen di kapal bisa bertahan sampai Sabtu ini, namun dengan syarat utama KRI Nanggala-402 menyelam maksimal hingga kedalaman 300 meter di bawah permukaan laut. "Tapi kalau posisi kapal lebih dari kedalaman itu, sudah tidak ada cerita," kata Frans, dikutip dari Tempo, Sabtu (24/4).

Tak hanya itu, Frans juga menduga tragedi hilang kontak yang mendebarkan ini terjadi akibat kapal yang berangkat terlalu pagi. Diketahui kapal berlayar sekitar pukul 03.00-04.00 WITA dan menurut Frans awak kapal belum siap betul. Sehingga ketika mereka berhadapan dengan situasi darurat, hanya respons panik yang muncul.


"Karena kapal itu kalau menyelam cepat sekali," tutur Frans. Karena itulah sebuah peristiwa tak terduga bisa terjadi dengan cepat dan membutuhkan konsentrasi tinggi para awaknya.

Frans mengamini kemungkinan tragedi KRI Nanggala-402 terjadi karena black out seperti dugaan selama ini. Dalam kondisi listrik mati total, segala peralatan tidak bisa digerakkan alias power lost padahal kemudi dan motor kapal sudah dalam posisi penyelaman.

Di saat seperti inilah seharusnya kru kapal bekerja cepat menemukan letak masalahnya di mana untuk menghindari hal tak diinginkan. "Barangkali ABK-nya ada something, sehingga dia terlalu lama untuk mencari penyebab black out," jelas Frans.

Menurut Frans, black out memang bisa terjadi di tengah operasi kapal selam. Hal itupun pernah dialaminya kala masih menjabat sebagai KKM KRI Nanggala-402.

Dalam keadaan gelap gulita dan kapal menuju kedalaman 50 meter, ia segera menekan tombol lampu darurat di kamar mesin yang menggunakan baterai cadangan. Para ABK pun sigap menyalakan senter yang dibawa di saku masing-masing untuk kemudian mencari penyebab black out.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait