Dalam sebuah buklet, ribuan pertanyaan tentang COVID-19 terjawab. Tak hanya menggunakan pendekatan medis profesional, sejumlah jawaban juga didasarkan pada interpretasi Alquran.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 28 Mei 2021 - 12:13 WIB
WowKeren - Denmark adalah salah satu negara Eropa yang memiliki tingkat vaksinasi COVID-19 rendah terutama di kalangan penduduk Muslimnya. Menurut data tahun 2005, Denmark adalah rumah bagi lebih dari 250.000 Muslim (4,4 persen populasi). Jumlah mereka terus meningkat selama beberapa dekade terakhir.
Mereka memiliki sederet pertanyaan kritis mengenai vaksin COVID-19 misalnya kepastian halal atau tidaknya vaksin maupun pandangan Nabi Muhammad mengenai vaksin ini.
Menanggapi sikap kritis ini, Dewan Kesehatan Nasional telah menggandeng para imam dan organisasi Islam untuk membujuk umat Islam agar mau divaksin. Dalam sebuah buklet yang diterbitkan di halaman Institut Serum Negara, kesalahpahaman dan konspirasi yang menghalangi Muslim untuk mendapatkan vaksinasi disangkal satu per satu.
Buklet tersebut memastikan bahwa tidak ada alasan untuk takut bahwa vaksin tersebut mengandung alkohol, gelatin dari babi atau sel dari janin. Buklet itu juga menyebut jika tidak ada alasan untuk percaya bahwa suntikan vaksin itu dapat merusak DNA fertilitas.
Dalam kata pengantar buklet tersebut, Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Søren Brostrøm menekankan bahwa ribuan pertanyaan tentang COVID-19 telah terjawab. Tak hanya menggunakan pendekatan medis profesional, sejumlah jawaban juga didasarkan pada interpretasi Alquran.
Selain itu, referensi buklet juga menunjukkan kepercayaan kepada Tuhan yang menyebut bahwa "percaya kepada Tuhan dan aktif menolong diri sendiri adalah upaya yang berjalan berdampingan dan tidak berlawanan". Melalui buklet ini juga umat Muslim di sana diyakinkan bahwa Nabi Muhammad juga menerima perawatan medis.
Mereka juga menekankan bahwa umat Muslim hanya diizinkan mengunjungi Mekah jika mereka divaksinasi, mengutip persyaratan dari otoritas kesehatan Saudi. Buklet ini pun memicu reaksi yang keras. Pasalnya, hal ini dianggap tak biasa bagi Denmark untuk menggunakan argumen Islam dalam kampanye perawatan kesehatan.
"Pertama-tama, ini mencerminkan kurangnya integrasi dalam komunitas Muslim tertentu," kata Juru bicara Konservatif Marcus Knuth kepada surat kabar Kristeligt Dagblad yang menyebut kampanye ini "sangat gila". "Bahwa masjid merupakan otoritas yang begitu besar, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam perawatan kesehatan."
(wk/zodi)