Novel Baswedan Cerita Firli Bahuri Diduga Terlalu Dominan Sampai 2 Pimpinan KPK Ingin Mundur
Twitter/KPK_RI
Nasional
Polemik Pimpinan KPK

Novel Baswedan membeberkan keluh kesah soal dominansi salah seorang pimpinan KPK hingga menggugurkan mekanisme kolektif kolegial. Belakangan sosok ini diduga Firli Bahuri.

WowKeren - Kontroversi yang mengiringi kepemimpinan Firli Bahuri sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menjadi buah bibir. Baru-baru ini penyidik senior KPK Novel Baswedan bahkan bercerita perihal keluh kesah dua pimpinan yakni Nawawi Pomolango dan Nurul Ghufron, soal dominansi Firli dalam pengambilan keputusan di lingkup lembaga antirasuah.

"Masalahnya gini, di KPK, itu beberapa pimpinan sering berkeluh kesah dengan kami termasuk dengan saya, itu fakta," tutur Novel di YouTube Public Virtue Institute, Minggu (20/6). "Saya bicara fakta dan saya siap bertanggung jawab dengan yang saya katakan, bertemu dengan yang bersangkutan pun saya berani katakan karena saya sedang tidak mengada-ada."

Pertama Novel menceritakan ulang keluhan Nawawi yang disebut memanggilnya pada Maret 2020. Pada kesempatan itu, Nawawi menyebut mekanisme kolektif kolegial sudah tak berlaku di tubuh KPK.

"Ini situasinya enggak bagus. Firli ini dominan dalam setiap keputusan," ungkap Novel menirukan pernyataan Nawawi pada Senin (14/6), sebagaimana dikutip dari Tempo.

Bahkan menurut Novel, Nawawi sampai ingin mengundurkan diri karena merasa sudah tak berdaya di KPK. "(Namun) saya bilang jangan mundur, pimpinan seharusnya berbuat, jangan diam," kata Novel, yang juga menceritakan keluhan Nawawi soal merasa diikuti orang yang terafiliasi dengan Firli.

Namun pernyataan Novel ini tidak mendapat kepastian dari Nawawi yang dijumpai Tim Indonesialeaks, gabungan dari beberapa jurnalis Indonesia. "Kenapa mengejar-ngejar saya? Saya lagi isolasi mandiri. Tolong hargai saya," jawab Nawawi, dikutip dari Tempo pada Senin (21/6).


Hal senada juga ternyata sempat diceritakan Nurul Ghufron kepada penyelidik senior KPK, Harun Al Rasyid. Kini baik Novel maupun Harun sama-sama masuk dalam daftar 75 pegawai KPK yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).

Ghufron mengaku merasa tertekan lantaran terus diawasi dan tidak berkontribusi banyak terhadap KPK. Ia pun mengaku ingin mengundurkan diri, "Tapi kalau aku resign, akan menyelamatkan KPK atau tidak?" ujarnya kepada Tim Indonesialeaks, Sabtu (19/6).

Dalam beberapa rapat pimpinan, Ghufron dan Nawawi kerap kalah suara. Namun Ghufron kemudian harus menyampaikan hasil rapat karena ada peraturan pimpinan KPK yang kalah suara harus muncul di hadapan publik.

Pada pernyataannya Minggu (20/6) kemarin Novel memang tidak blak-blakan menyebutkan nama Firli. Namun menurutnya, keluhan akan dominansi satu pimpinan KPK ini juga dirasakan oleh keempat rekannya yang lain.

"Dan yang mendapat keluh kesah bukan cuman saya bahkan di luar KPK pun banyak tokoh-tokoh yang dikeluhkesahin juga," tutur Novel. "Keluh kesahnya apa, dikatakan bahwa di KPK ada pimpinan KPK yang terlalu dominan, bahkan dalam beberapa keadaan 4 pimpinan ingin melakukan sesuatu dan yang satu ini tidak mau, itu tidak bisa terjadi."

Di sisi lain, cerita mengejutkan ini belum mendapat konfirmasi dari Firli Bahuri. Namun kontroversi di tubuh KPK sejak di bawah kepemimpinannya terus menjadi sorotan publik.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts