Menteri Perumahan dan Pemerintah Daerah Datuk Zuraida Kamaruddin mengatakan untuk melancarkan program ini pemerintah akan mengerahkan setidaknya 15 unit armada bus.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 07 Juli 2021 - 11:11 WIB
WowKeren - Pemerintah Malaysia punya cara unik untuk menggencarkan upaya vaksinasi mereka di tengah kasus COVID-19 yang terus meningkat. Mereka mengadakan program vaksinasi komunitas keliling yang disebut Movak.
Program ini awalnya menyasar pedagang kecil. Namun kekinian melebarkan fokusnya ke warga perkebunan dan proyek perumahan rakyat (PPR) Selangor karena kasus COVID-19 yang tinggi dan tidak kunjung turun.
Menteri Perumahan dan Pemerintah Daerah Datuk Zuraida Kamaruddin mengatakan untuk melancarkan program ini pemerintah akan mengerahkan setidaknya 15 unit armada bus. Hal itu disampaikan olehnya saat mengunjungi proyek percontohan Movak di Dewan Datuk Ahmad Razali, pada Selasa (6/7).
"Ini akan melibatkan penggunaan 15 bus," kata Kamaruddin. "Yang akan fokus pada 12 wilayah otoritas lokal (PBT) dan PPR dengan kepadatan tinggi, sebelum menuju ke negara bagian lain."
Dia mengatakan proyek percontohan itu mendapat respon positif dari para pedagang di bawah Dewan Kota Ampang Jaya (MPAJ). Semua 504 orang telah hadir untuk memenuhi janjian mereka.
Nantinya, jumlah armada bus akan ditambah. Menteri Persatuan Nasional, Datuk Halimah Mohamed Sadique, yang juga hadir mengatakan bahwa 10 bus lagi akan ditambahkan ke program tersebut. Bus-bus ini rencananya akan dikirim ke perkebunan di seluruh negeri untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Menurutnya, tingkat pendaftaran vaksinasi di kalangan masyarakat India di perkebunan rendah. Bus akan dikerahkan ke perkebunan yang jauh dari pusat vaksinasi (PPV), seperti di Segamat, Labis dan Ledang di Johor. Ia meyakinkan bahwa Movak yang merupakan kolaborasi bersama dengan Kementerian Perumahan tidak tumpang tindih dengan Inisiatif PPV seluler Kementerian Pembangunan Pedesaan untuk Orang Asli.
Sementara itu pada akhir bulan Juni, Malaysia mencatat sejumlah besar tenaga kesehatan mengalami burnout parah. Burnout tak hanya disebabkan oleh kelelahan akibat jam kerja panjang namun juga pandemi. Hal itu sebagaimana diinformasikan oleh Kementerian Kesehatan di tengah kekhawatiran tentang kesehatan mental para stafnya saat mereka menghadapi wabah COVID-19.
(wk/zodi)