Presiden Brasil Jair Bolsonaro Dilarikan ke RS Usai Seminggu Lebih Alami Cegukan
Instagram/jairmessiasbolsonaro
Dunia

Sekretariat Khusus Brasil untuk Komunikasi Sosial mengatakan jika Bolsonaro telah mengalami cegukan selama lebih dari seminggu dan juga sakit di bagian perut.

WowKeren - Kabar kurang menyenangkan datang dari Brasil. Pada Rabu (14/7) Presiden Brasil Jair Bolsonaro harus dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan jika orang nomor satu di Brasil tersebut mengalami obstruksi usus.

Selain itu, dokter juga menyebutkan jika tindakan operasi darurat mungkin perlu dilakukan. Sekretariat Khusus Brasil untuk Komunikasi Sosial mengatakan jika Bolsonaro telah mengalami cegukan selama lebih dari seminggu. Tak hanya itu, presiden juga mengalami sakit perut di malam hari sehingga membuatnya segera dilarikan ke rumah sakit militer di Brasilia.

Namun, kantornya mengumumkan bahwa dokternya, Antonio Luiz Macedo, mendiagnosisnya dengan obstruksi usus dan memindahkannya ke fasilitas di Sao Paulo. Di sana, Bolsonaro akan menjalani tes tambahan untuk menentukan apakah dia memerlukan pembedahan.

Sebelumnya pada tahun 2018 lalu, Bolsonaro sempat mengalami insiden penikaman di perutnya. Peristiwa itu terjadi ketika dirinya tengah berkampanye untuk mencalonkan diri jadi presiden. Kendati demikian, dokter belum mengatakan apakah sakit yang diderita Bolsonaro ada hubungannya dengan insiden tersebut.


Sementara itu, CNN melaporkan jika Bolsonaro tampak kesulitan saat berbicara selama seminggu terakhir termasuk pada Selasa saat berbicara dengan para pendukungnya. Terkait cegukannya ini, Bolsonaro mengatakan hal itu bermula setelah dirinya menjalani prosedur perawatan gigi pada 3 Juni lali.

"Rekanku, saya tidak bisa bersuara," ujarnya. "Jika saya mulai berbicara terlalu banyak, saya akan kembali mengalami cegukan. Cegukan itu kembali."

Lalu, The Guardian melaporkan dia meninggalkan makan malam lebih awal pada hari Jumat. Hal ini disebabkan karena dia merasa sakit.

Nama Bolsonaro kerap menjadi pembicaraan dunia, terutama terkait penanganannya terhadap pandemi COVID-19. Bahkan di negaranya sendiri, ia juga menuai kritikan.

Puluhan ribu orang berunjuk rasa pada hari Sabtu (4/7) menuntut pemakzulannya di tengah klaim bahwa presiden tersebut berupaya mencari keuntungan dari pembelian vaksin COVID-19. Dia dituduh mengabaikan peringatan penyimpangan dalam kesepakatan untuk mengamankan 20 juta vaksin yang belum menyelesaikan uji klinis.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts