Hasil Otopsi Pemuda 22 Tahun yang Meninggal Usai Divaksin AstraZeneca: Tak Ditemukan Komorbid
commons.wikimedia.org/Rwendland
Nasional
Vaksin COVID-19

Kakak kandung mendiang Trio Fauqi, Viki, mengungkapkan bahwa hasil otopsi tersebut disampaikan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Selasa (27/7) sore kemarin.

WowKeren - Kematian pemuda berusia tahun 22 tahun pasca menerima vaksin AstraZeneca pada Mei 2021 lalu sempat menjadi sorotan. Belakangan, pihak keluarga mengaku telah menerima hasil otopsi pemuda bernama Trio Fauqi Firdaus tersebut.

Kakak kandung Trio, Viki, mengungkapkan bahwa hasil otopsi tersebut disampaikan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada Selasa (27/7) sore kemarin. Perwakilan Dinkes DKI disebut mendatangi kediaman keluarga Trio di Buaran, Jakarta Timur.

Mereka kemudian mengadakan pertemuan virtual via Zoom untuk membahas hasil otopsi Trio. Viki menjelaskan bahwa berdasarkan hasil otopsi, tidak ditemukan tanda-tanda penyakit bawaan atau komorbid yang menyebabkan Trio meninggal dunia.

"Diadakan zoom meeting, ada Komnas KIPI, Prof Indra, Kemenkes Bu Siti sama dokter forensik RSCM, yang menyatakan bahwa hasil autopsi tidak ditemukan sama sekali komorbid dari almarhum Trio," ungkap Viki kepada Kumparan.

Hasil otopsi juga tidak menemukan adanya serangan jantung atau gagal paru. Ditemukan kelainan berupa bintik-bintik hitam, tapi tidak menyebabkan kematian. Meski begitu, tidak disebutkan lokasi dimana bintik-bintik hitam tersebut ditemukan.


"Yang saya garis bawahi ada kelainan tapi tidak menyebabkan kematian," papar Viki. "Dokter bilangnya tidak bisa kami bicara, bahwa kelainan itu tidak berakibat kematian."

Lebih lanjut, pihak keluarga rupanya juga sempat berulang kali menanyakan apakah kematian Trio berkaitan dengan vaksin dalam Zoom meeting tersebut. Namun menurut Viki, pihak Kemenkes, RSCM, maupun Komnas KIPI tidak memberikan jawaban secara jelas.

"Tidak ada komorbid dan tidak ada serangan jantung. Adik saya meninggal kurang dari 24 jam setelah divaksin AstraZeneca," paparnya. "Mereka menjawab dengan halus, tidak bisa seperti itu (meninggal karena vaksin). Sebagai petugas medis (mereka) hanya bisa menyampaikan hasil autopsi."

Lebih lanjut, Viki menjelaskan bahwa jenazah Trio kala itu diminta untuk diotopsi demi kepentingan umum sehingga pihak keluarga menyetujui. Awalnya, hasil otopsi dijanjikan akan dirilis dalam waktu dua minggu, namun pihak keluarga baru kembali diberi kabar setelah dua bulan.

"Ibu saya nangis, enggak puas dong. Dari awal kenapa harus diotopsi," ungkap Viki. "Prof Indra juga menyampaikan minta maaf kami punya keterbatasan, kami dari bidang keilmuan juga tidak sempurna. Saya apresiasi statement itu karena memang manusia enggak ada yang sempurna, tapi yang saya janggal, kenapa sih kalau sudah jelas faktanya komorbid tidak ada, kelainan juga tidak bisa mengakibatkan kematian, serangan jantung nggak ada, hipertensi nggak ada, normal semua, maka kan 90 persen lah AstraZeneca dong."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts