Indonesia Diprediksi Bisa Jadi Negara Terakhir di Dunia yang Keluar Dari Krisis Pandemi Corona
Wikimedia Commons/Alberto Giuliani
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai kebijakan pandemi COVID-19 di Indonesia selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh kompromi politik dan ekonomi dibanding sisi kesehatan.

WowKeren - Epidemiolog memprediksi Indonesia akan menjadi negara terakhir yang keluar dari krisis pandemi COVID-19 apabila tak ada kebijakan strategis luar biasa pada pemulihan kesehatan. Hal ini diungkapkan oleh epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Menurut Dicky, kebijakan pandemi COVID-19 di Indonesia selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh kompromi politik dan ekonomi dibanding sisi kesehatan. Salah satu contohnya adalah pemerintah Indonesia yang ngotot tetap menggelar Pilkada Serentak 2020 meski banyak pakar kesehatan menyuarakan penolakan.

"Di tahun pertama pemerintah meremehkan pandemi dan keputusan yang diambil tidak berbasis sains. Tahun kedua, mau jalan di dua kaki yaitu kesehatan dan ekonomi tapi tidak seimbang. Kesehatan berada di kaki yang lemah," tutur Dicky kepada BBC News Indonesia, dikutip pada Kamis (29/7). "Testing rendah, tracing sekadarnya, dilakukan pembatasan tapi sangat longgar."

Hal tersebut dinilainya berdampak besar pada sektor kesehatan. Belakangan, Indonesia bahkan menduduki posisi teratas penyumbang kasus COVID-19 harian dan kematian tertinggi dunia.


"Inilah yang dihadapi Indonesia karena sudah menempatkan pilihan strategi yang salah dari awal sehingga masalah kesehatan terlanjur membesar," paparnya. "Mau tidak mau kita akan melihat kasus kematian dari hasil kompromi ini, kematian yang sangat banyak."

Apabila tidak ada perubahan kebijakan strategis yang luar biasa, Indonesia diprediksi Dicky akan menjadi negara terakhir yang keluar dari krisis pandemi COVID-19. Dicky bahkan mengungkapkan bahwa mobilitas masyarakat juga berpotensi menghasilkan varian virus baru.

"Tampaknya Indonesia akan selesai belakangan dari situasi krisis pandemi. Ini bukan estimasi yang mengenakkan, tapi kondisi saat ini mengarah ke situ," katanya. "Sebab Indonesia bukan tidak mungkin akan menghasilkan suatu varian virus baru dari pergerakan manusia yang tidak terkendali dari pulau-pulau lain. Potensi itu besar seperti pada kasus flu burung muncul strain super."

Di sisi lain, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman baru-baru ini menyatakan bahwa varian turunan Delta, yakni Delta Plus alias AY.1, sudah dideteksi di Indonesia. Terkait hal ini, Dicky mengaku tidak terlalu kaget mengingat situasi lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia saat ini.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts