Tiongkok 'Dihantui' Varian Delta, Bakal Kembali Terapkan Lockdown?
pixabay.com
Dunia

Tiongkok saat ini tengah dihadapkan sebuah dilema dalam menerapkan kebijakan. Di tengah kasus COVID-19 varian Delta yang semakin merebak, Tiongkok ingin menerapkan lockdown, namun akan mempengaruhi keadaan perekonomian.

WowKeren - COVID-19 hingga saat ini masih menjadi wabah global yang menyerang negara-negara di dunia. Bahkan saat ini muncul banyak varian COVID-19, salah satunya Delta yang sangat cepat menular.

Varian Delta telah menyeluruh ke negara-negara di dunia, tak terkecuali Tiongkok. Varian Delta ini diketahui mulai merebak ke berbagai wilayah di Tiongkok. Maka dari itu, pemerintah memutuskan untuk mengambil kebijakan-kebijakan ketat yang mengisolasi kota-kota di Tiongkok agar tidak semakin merebak.

Seperti yang diketahui, virus COVID-19 ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019 lalu. Sejak awal kemunculannya, Presiden Xi Jinping telah memerangi wabah ini dengan sangat serius yakni melakukan penguncian wilayah atau lockdown.

Saat ini, Presiden Xi Jinping diketahui berencana akan kembali melakukan kebijakan lockdown. Sejumlah akses pun telah diputus, penerbangan juga dibatalkan, kemudian pengujian massal diperintahkan dilakukan di beberapa daerah.


Kemudian, pemerintah juga menerapkan strategi "tanpa toleransi" untuk mengkarantina setiap kasus COVID-19 dan mencoba untuk menahannya agar tidak menyebar luas. Terutama kasus varian baru dari luar negeri. Akan tetapi, strategi ini bakal berdampak terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di sektor perekonomian.

Seorang dokter di Shanghai, Zhang Wenhong mengatakan bahwa wabah terbaru menunjukkan strategi Tiongkok akan berubah dalam menghadapi pandemi, sebab virus tidak akan pernah hilang. "Dunia perlu belajar bagaimana hidup berdampingan dengan virus ini," terang Zhang dalam keterangan tertulis di media sosial.

Sementara itu, bagi para atlet dan reporter Tiongkok, yang nantinya akan mengikuti Olimpiade Musim Dingin di Beijing pada Februari 2022, akan diuji atau tes COVID-19 secara ketat. Kemudian di akhir 2022, ada pergantian kepemimpinan yang sensitif secara politik, di mana para pemimpin menginginkan kondisi ekonomi yang optimis.

Tiongkok dinilai perlu menciptakan kebijakan baru dalam menghadapi infeksi COVID-19 terhadap masyarakat. Salah satunya adalah dengan meningkatkan vaksinasi.

Menurut Xi Chen yang merupakan seorang ekonom kesehatan di Yale School of Public Health, mengatakan bahwa negara membutuhkan akses ke berbagai macam vaksin, termasuk memungkinkan dalam suntikan yang dikembangkan oleh BioNTech Jerman. Hal ini dinilai bisa menggantikan strategi "tanpa toleransi".

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait