Sebagian besar kabupaten/kota dengan kasus aktif terbanyak di Indonesia berada di Jawa-Bali. Namun Satgas COVID-19 meminta 5 daerah ini untuk lebih waspada karena tertinggi se-Indonesia.
- Elvariza Opita
- Jumat, 06 Agustus 2021 - 13:02 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 belum berakhir, meski otoritas Indonesia mengklaim tren penurunan terutama di wilayah Jawa dan Bali terus teramati. Meski kasus baru berkurang, namun Satuan Tugas Penanganan COVID-19 masih sangat mewaspadai tingginya kasus aktif alias pasien-pasien positif COVID-19 yang memerlukan perawatan, yang bila tidak tertangani dengan baik tentu saja bisa berisiko meninggal dunia.
Setidaknya, menurut Satgas, ada 50 kabupaten/kota di Indonesia yang kasus aktifnya cukup tinggi. "Penurunan kasus aktif harus diupayakan tercapai karena kesembuhan yang tinggi," kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam konferensi persnya, Kamis (5/8).
Data Satgas COVID-19 mengungkap, Indonesia masih didominasi daerah-daerah dengan angka kasus aktif di kisaran 51-1.000. Namun ada 131 kabupaten/kota yang kasus aktifnya sampai di atas seribu, yang menurut Satgas juga masih didominasi wilayah Jawa-Bali, yakni sebanyak 83 di antaranya.
Satgas pun mendesak 5 kabupaten/kota berikut ini lebih waspada karena kasus aktif di wilayah mereka merupakan yang terbanyak se-Indonesia. Yakni Kota Depok (27.389), Kota Bekasi (22.674), Kota Bandung (15.151), Kabupaten Bantul (14.760), dan Kota Tangerang Selatan (11.180).
Lalu setengah dari provinsi Indonesia, menurut Satgas, juga memiliki kabupaten/kota dengan kasus aktif di atas 2.300 kasus. "Padahal pada akhir bulan Mei 2021 atau sebelum lonjakan kasus terjadi, jumlah kasus di kabupaten/kota ini berkisar antara 400-1.000 kasus saja," terang Wiku, menegaskan bahwa kenaikan kasus aktif sampai berkali-kali lipat terjadi hanya dalam jangka waktu singkat.
Selain di Jawa dan Bali, ada beberapa kabupaten/kota yang masuk daftar 50 daerah dengan kasus aktif tertinggi di Indonesia. Meski tak dijelaskan detail, Satgas hanya mengungkap sebanyak 7 daerah di Pulau Sumatera, 4 kabupaten/kota di Pulau Kalimantan, 2 di Pulau Sulawesi dan Papua, serta Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku masing-masing 1 kabupaten/kota.
"Penting bagi pemerintah daerah untuk mengetahui kondisi di daerahnya masing-masing," tegas Wiku. "Kepada seluruh gubernur dimohon memantau data COVID-19 di provinsinya. Sehingga selalu terpantau perkembangannya, karena hal ini perlu diantisipasi sedini mungkin."
Wiku juga mengingatkan agar pemda terkait untuk selalu berkomunikasi dengan pusat. "Saya yakin 50 kabupaten/kota ini mampu melakukannya asalkan konsisten dalam bekerja keras dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan dan meningkatkan angka kesembuhan," pungkas Wiku.
(wk/elva)