Pada Hari Kemerdekaan India yang ke-75, PM Modi menyampaikan terkait rencana besar untuk meningkatkan perekonomian nasional yang sempat melemah akibat pandemi COVID-19.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 16 Agustus 2021 - 11:44 WIB
WowKeren - Setiap 15 Agustus, diperingati India sebagai Hari Kemerdekaannya. Pada tahun 2021, India merayakan Hari Kemerdekaannya yang ke-75. Saat merayakannya, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan sejumlah rencana besar negara.
Dalam pidatonya, Modi mengatakan bahwa India akan meluncurkan rencana infrastruktur besar sebagai upaya untuk meningkatkan ekonomi dan menargetkan cakupan sebesar 100 persen. Adapun dalam mewujudkan rencana tersebut, dianggarkan dana sebesar 100 triliun Rupee atau sekitar Rp19.357 triliun.
Modi menerangkan bahwa rencana peluncuran infrastruktur besar itu disebut dengan "Gati Shakti. Infrastruktur nasional ini bertujuan untuk meningkatkan manufaktur dan lapangan kerja akan diluncurkan.
"Dari gas masak gratis hingga skema jaminan kesehatan, masyarakat miskin mengetahui kekuatan skema pemerintah," ungkap Modi dalam pidatonya di Benteng Merah, New Delhi. "Skema ini telah berkembang pesat belakangan ini, tetapi sekarang kita harus bergerak menuju kejenuhan."
Modi kembali menekankan bahwa program infrastruktur nasional tersebut harus bisa mencapai cakupan 100 persen. Hal ini disebabkan dana yang telah dianggarkan sangat besar, sehingga diharapkan semua masyarakat India bisa merasakan semuanya dan ekonomi meningkat.
"Seratus persen desa harus memiliki jalan, 100 persen rumah tangga harus memiliki rekening bank, sementara 100 persen orang yang memenuhi syarat harus mendapatkan skema asuransi, pensiun, dan perumahan. Kami harus beroperasi pada metode persen-persen," tegas Modi. "Semua produsen harus membidik pasar global, India harus menjadi pusat pasar global."
Akan tetapi rencana program tersebut malah mendapat kritikan dari masyarakat. Masyarakat menyebut bahwa pemerintah juga menyampaikan rencana yang sama di masa lalu.
Ekonomi terbesar ketiga di Asia itu mengalami kontraksi 7,3 persen pada Maret lalu. Hal ini merupakan resesi terburuk yang terjadi akibat penguncian wilayah atau lockdown saat pandemi COVID-19. Sehingga membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan dan menghantam aktivitas ekonomi.
"Terlepas dari semua upaya, kami belum dapat menyelamatkan banyak orang," tandas Modi. "Begitu banyak anak kehilangan sistem pendukung mereka, orang yang mereka cintai. Rasa sakit yang tak tertahankan ini akan tetap bersama kita selamanya."
(wk/tiar)