Usai Taliban Berhasil Kuasai Afghanistan, Para Investor Asing Hadapi Kedilemaan
pxhere.com/Ilustrasi
Dunia

Sebelumnya, Taliban telah berhasil menguasai Afghanistan, usai sang Presiden melarikan diri. Hal ini tentunya membawa dampak bagi kehidupan dan kegiatan perekonomian di Afghanistan.

WowKeren - Polemik politik yang terjadi di Afghanistan saat ini kondisinya semakin parah. Taliban berhasil menguasai ibu kota Afghanistan, Kabul pada 15 Agustus lalu.

Hal ini membuat sejumlah investor asing yang berada di Afghanistan dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Adapun pilihan yang dimaksud adalah meninggalkan Afghanistan dan investasi selama bertahun-tahun atau menetap dan terlibat dengan Taliban.

Taliban sendiri dalam satu pekan terakhir diketahui menjanjikan hubungan damai dengan negara-negara lain, hak-hak perempuan diberikan, dan media independen. Akan tetapi, para mantan diplomat dan akademisi menyebut bahwa itu hanya janji semata dan sikap Taliban masih sama brutalnya.

Sebagai informasi, di masa lalu, Taliban melarang perempuan bekerja, bahkan gadis-gadis yang bersekolah, hingga pemberontak dibunuh di depan umum. Pada tahun 2001, rencana al-Qaeda atas penyerangan pesawat dan membajak di New York dan Washington yang disembunyikan, akhirnya memicu invasi pimpinan Amerika Serikat (AS).


Sementara itu, Profesor Sejarah di Universitas Stanford sekaligus penulis buku "Afghan Modern: The History of a Global Nation" pada tahun 2015, Robert Crews menyebut bahwa adanya sebuah paradoks yang tercipta saat bantuan asing datang. "Bagi lembaga asing, situasi ini menghadirkan sebuah paradoks," tuturnya.

"Jika Anda seorang pekerja bantuan di rumah sakit negara, Anda melayani rezim yang legitimasinya seimbang," terang Crews. "Tetapi jika semua orang pulang, apakah negara akan runtuh?

Seperti yang diketahui, 70 hingga 80 persen anggaran pemerintah Afghanistan didanai oleh investor asing atau internasional. Termasuk di antaranya Badan Pembangunan Internasional AS. Hal ini disampaikan oleh Michael McKinley selaku pejabat duta besar untuk Afghanistan pada 2015 dan 2016.

Kinley mengungkapkan bahwa Afghanistan menghadapi keruntuhan ekonomi tanpa bantuan. Artinya bahwa, Taliban membutuhkan investor asing, untuk menopang kegiatan politiknya.

"Taliban akan membutuhkan dana luar yang substansial kecuali mereka mundur ke apa yang mereka lakukan dari tahun 1996 hingga 2001, yang pada dasarnya menjalankan pemerintah ke tingkat minimalis," papar Kinley. "Hidup dari perdagangan narkotika tidak memberi mereka jalan untuk tetap berkuasa."

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait