Sekolah di Jepang Berupaya Atasi Meningkatnya Angka Bunuh Diri Siswa di Tengah Pandemi
pixabay.com/Ilustrasi/Branzer
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sekolah-sekolah di Negeri Sakura juga mengadakan sesi tentang kesehatan mental dan menggunakan teknologi untuk membantu siswa melaporkan suasana hati mereka.

WowKeren - Di tengah lonjakan kasus COVID-19, Jepang juga harus dihadapkan pada masalah serius lainnya, yakni aksi bunuh diri yang marak terjadi di kalangan siswa. Bunuh diri di kalangan siswa meningkat di tengah pandemi virus corona.

Hal ini mendorong sekolah-sekolah di seluruh Jepang untuk segera mengambil tindakan. Mereka juga mengadakan sesi tentang kesehatan mental dan menggunakan teknologi untuk membantu siswa melaporkan suasana hati mereka.

Melansir Kyodo News Jepang telah mencatat rekor tertinggi angka bunuh diri di kalangan siswa, yakni 499 pada tahun 2020 di tengah pandemi. Banyak dari mereka diyakini merasa kesepian selama penutupan sekolah yang berlangsung selama berbulan-bulan untuk mencegah penyebaran virus.

Menurut data pemerintah, angka ini mengalami peningkatan. Angka bunuh diri untuk paruh pertama tahun 2021 tercatat lebih tinggi dari tahun lalu. Pada bulan Maret sebuah sekolah menengah pertama di Prefektur Wakayama Jepang barat menggelar sesi pendidikan kesehatan mental.


Di hadapan 140 siswa, seorang konselor sekolah menjelaskan bagaimana mengenali tanda-tanda mereka mungkin mengembangkan kondisi kesehatan mental. Konselor Eriko Fujita, 54, yang juga seorang psikolog bersertifikat, menyarankan siswa kelas dua untuk memperhatikan perubahan kebiasaan.

Adapun perubahan kebiasaan yang dimaksud ini bisa jadi terkesan sepele bagi orang lain. Misalnya seperti makan lebih banyak makanan penutup dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan hewan peliharaan.

"Anda dapat mempelajari kondisi mental Anda," kata Fujita mengutip Kyodo News. "Dengan memperhatikan perubahan kesehatan fisik dan perilaku Anda."

Sejak sesi itu diadakan, ada lebih banyak siswa di sekolah itu berkonsultasi dengan para guru tentang kesehatan mental. "Kesadaran bahwa mencari bantuan itu penting telah menyebar," kata Fujita.

Sementara itu, dewan pendidikan kota Osaka pada bulan April telah memperkenalkan sebuah aplikasi perangkat lunak berjudul "cuaca hati" untuk memeriksa kesehatan mental siswa. Aplikasi ini dimuat ke komputer tablet yang digunakan oleh semua anak di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang dikelola oleh pemerintah kota Jepang bagian barat.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts