Korban Jiwa Kebakaran Lapas Tangerang Bertambah Jadi 48 Napi, Polisi Duga Titik Asal Api dari Sel
Nasional
Kebakaran Lapas Tangerang

Polisi menduga titik api berasal dari salah satu sel di Lapas Tangerang. Di sisi lain, Komnas HAM juga sempat menyinggung dugaan napi berebut aliran listrik untuk kebutuhan daya HP.

WowKeren - Korban jiwa yang ditimbulkan dari kebakaran Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang bertambah lagi. Per Senin (13/9), jumlah korban jiwa bertambah lagi menjadi 48 narapidana, di mana keduanya meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Tangerang.

"Ada dua tambahan korban meninggal, tuan M mengalami trauma inhalasi, dengan luas luka bakar 20 persen dan dengan penyakit penyerta," kata Kepala Humas RSUD Kabupaten Tangerang, dr Hilwani, dikutip pada Selasa (14/9). "Tuan I mengalami trauma inhalasi dan luka bakar 98 persen."

Dengan demikian, saat ini masih ada empat pasien yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang. Dari keempatnya, dua di antaranya sudah dalam kondisi stabil serta bisa diajak berkomunikasi. Sementara yang dua lainnya masih dalam kondisi cukup berat sehingga masih dalam pantauan khusus.

Kasus ini diketahui terus menjadi sorotan nasional, terutama untuk dicari tahu apa penyebabnya. Polda Metro Jaya pun belum lama ini mengungkap dugaan awal sumber titik api yang disebut berasal dari salah satu kamar sel di Blok C2.


"Kemarin sudah saya sampaikan memang dugaan awal sementara titik api dari mana itu sudah diketahui. Di salah satu sel yang ada di Blok C2, itu dugaannya. Di sel nomor 4, ada dugaan di sana," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus di RS Polri Kramat Jati, Senin (13/9).

Meski demikian, pihak kepolisian masih menunggu hasil pengujian laboratorium. "Tapi kan harus dibuktikan dengan pengujian laboratoris dulu dari Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri). Nanti yang berhak untuk menyampaikan dari mana asalnya, apa penyebabnya adalah ahlinya, dalam hal ini dari Puslabfor," sambungnya.

Perihal penyebab kebakaran maut ini memang belakangan memicu perdebatan. Sebab Komnas HAM menduga para napi melakukan improvisasi aliran listrik untuk kebutuhan menggunakan ponsel.

"Karena itu bangunan tua dan kabel di atas, beda (dengan) di beberapa lapas yang bangunan baru kabelnya ditanam di beton," terang Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam sebuah diskusi virtual, Minggu (12/9). "Dan yang paling penting adalah ada main HP katanya. Jadi HP itu masuk ke dalam ruang-ruang itu. Jadi kalau colokan rebutan, diimprovisasi instalasi listriknya potensial kebakaran dengan arus listrik."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts