Video Yang Menunjukkan Santri Tutup Telinga Karena Dengar Musik Diviralkan, Begini Tanggapan MUI
Pexels/ Burst
Nasional

MUI menanggapi sebuah video yang diviralkan di sosial media bernarasi santri menutup telinga karena mendengar musik. Pihaknya pun memberi penjelasan akan hal itu.

WowKeren - Belakangan, dunia maya dihebohkan dengan sebuah video yang menunjukkan para santri menutup telinganya saat mendengar musik. Hal ini lantas menjadi buah bibir, sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut memberikan tanggapan.

M Ziyad selaku Wakil Sekjen MUI menanggapi video yang diviralkan dengan narasi santri menutup telinga saat mendengar musik di area vaksinasi. Menurutnya, hal itu perlu diperjelas dan ia menduga bukan merupakan paham radikal melarang musik.

Sebagai informasi, dalam video yang beredar itu menunjukkan sekelompok santri terlihat tengah menutup telinga. Terdengan suara si perekam yang menyebut mereka menutup telinga karena ada alunan musik di lokasi. Tetapi, tidak jelas kapan peristiwa itu terjadi dan dari mana santri berasal.

Ziyad pun menegaskan bahwa video tersebut harus diluruskan terlebih dahulu. "Di dalam berita itu, tidak dijelaskan di mana posisi santri itu. Ini perlu juga diclearkan," tegas Ziyad kepada detik.com, Selasa (14/9).


Meski belum mengetahui pasti alasan dibalik santri tersebut menutup telinga saat mendengar musik, Ziyad mengatakan bahwa ia merupakan pelajar Tahfiz atau Penghafal Al-Quran. Menurutnya, para santri harus menjaga hafalannya agar tidak terganggu atau terpengaruh dengan hal-hal lain.

"Anak santri ini memang dijaga betul hafalan Al-Qurannya termasuk jangan sampai mendengarkan hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi hafalannya," terang Ziyad. "Itu salah satunya itu adalah musik. Suara-suara, enggak hanya musik saja gitu."

Lebih lanjut, Ziyad menjelaskan bahwa seorang pelafal Al-Quran harus benar-benar menjaga hafalannya. Mereka akan memiliki masalah jika mendengarkan musik, maksudnya adalah nanti yang melekat diingatannya adalah musik tersebut.

"Mohon maaf kalau mau jauh, Imam Syafi'i, kalau pergi ke masjid, telinga disumpal dengan kapas. Apa tujuannya, dia tidak ingin dengar apapun selama perjalanan dari rumah ke masjid," imbuhnya. "Saking cerdas beliau, hanya mendengar itu beliau hafal di pikiran dia. Takut tercampur dengan hafalan hadis, fikih dll. Kita harus proporsional, jernih melihat itu."

Ziyad lantas mempertanyakan apakah pelaksana vaksinasi COVID-19 tersebut tahu kalau mereka merupakan penghafal Al-Quran. Apabila mengetahui, harusnya panitia mematikan musik sebagai rasa saling menghormati.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts