Menlu Retno Kritik Inisiatif 'Anti Tiongkok' AUKUS, Tegaskan Dapat Ancam Stabilitas Indo-Pasifik
Flickr/secdef
Nasional

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi turut menyinggung inisiatif kerja sama bidang pertahanan antara Amerika Serikat, Australia, dan Inggris yang dianggap bermaksud menandingi Tiongkok.

WowKeren - Beberapa waktu lalu Amerika Serikat, Inggris, dan Australia meneken kesepakatan inisiatif pertahanan yang langsung menjadi sorotan dunia. Bertajuk AUKUS, inisiatif pertahanan ini disebut-sebut demi menandingi kekuatan Tiongkok yang belakangan semakin kuat di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia pun ternyata menjadi salah satu negara yang kurang menyambut baik kesepakatan ini. Pasalnya lewat kesepakatan ini, Australia akan mendapatkan teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir demi meningkatkan kekuatan angkatan lautnya.

"Saya singgung mengenai AUKUS dan keputusan Australia untuk pengadaan kapal selam bertenaga nuklir," ujar Retno lewat keterangan persnya di New York, Amerika Serikat, Rabu (22/9). Bukan hanya karena keberadaan teknologi kapal selam bertenaga nuklir tersebut, tetapi juga karena kesepakatan AUKUS seketika memicu kemarahan Prancis yang sebelumnya sudah mempunyai perjanjian dengan Australia terkait pembelian kapal selam konvensional.

Retno yang turut berbicara di forum Asia Society pada Selasa (21/9) menyebutkan bahwa Indonesia mencatat semua komitmen yang disampaikan Australia. Termasuk soal janji negara tersebut untuk terus menghormati prinsip nonproliferasi dan hukum internasional.


Namun Retno mengkhawatirkan stabilitas kawasan yang akan terancam karena inisiatif pertahanan yang disepakati tiga negara besar tersebut. Apalagi bila kemudian inisiatif tersebut malah memicu terjadinya aksi unjuk kekuatan.

"Tetapi saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection (unjuk kekuatan) di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan," tutur Retno, dikutip pada Kamis (23/9).

Perihal inisiatif AUKUS ini juga disinggung oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) Antonio Guterres. Ia mengingatkan tentang kemungkinan meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan AS yang bisa berdampak besar terhadap global.

"Ini mungkin menjadi bencana. Ini akan jauh lebih sulit diprediksi daripada Perang Dingin," ungkap Guterres dalam pembukaan Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York. Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga memastikan bahwa semua langkah politik internasional yang dibuat negaranya tidak bermaksud untuk menciptakan perang dingin.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts