Aturan Perjalanan Inggris di Masa Pandemi Picu Kemarahan Sejumlah Negara
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sekretaris Negara untuk Transportasi Inggris Raya, Grant Shapps, menggambarkan aturan baru tersebut sebagai 'sistem baru yang disederhanakan untuk perjalanan internasional'.

WowKeren - Aturan perjalanan baru Inggris di masa pandemi COVID-19 menuai kemarahan negara-negara Amerika Latin, Afrika, hingga Asia Selatan. Pasalnya, aturan baru tersebut hanya mengaku Vaksin COVID-19 yang diberikan di sekelompok negara tertentu.

Menurut Sekretaris Negara untuk Transportasi Inggris Raya, Grant Shapps, aturan baru yang diumumkan pada Jumat (17/9) lalu itu adalah "sistem baru yang disederhanakan untuk perjalanan internasional". Shapps menambahkan aturan tersebut bertujuan untuk memudahkan orang-orang bepergian.

Dengan aturan tersebut, pelancong yang telah menerima dua suntikan Vaksin AstraZeneca, Pfizer, Moderna, atau satu suntikan Vaksin Johnson & Johnson di Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, atau Uni Eropa akan dianggap telah "divaksinasi penuh". Para pelancong tersebut bebas dari karantina kala mereka datang ke Inggris dari negara daftar kuning.

Namun, orang-orang yang telah menerima vaksinasi penuh dengan jenis vaksin COVID-19 yang sama di Afrika, Amerika Latin, serta negara lain termasuk India, justru dianggap "belum divaksinasi penuh". Para pelancong ini wajib menjalani karantina 10 hari pada saat datang ke Inggris dari negara daftar kuning.

Melansir The Guardian, seorang diplomat Amerika Latin dibuat jengkel dengan adanya aturan baru tersebut. Menurut diplomat tersebut, tak ada satu orang pun yang tak marah kala ia mengajak mereka membicarakan aturan baru ini.


"Bagaimana vaksin Pfizer atau Moderna atau AstraZeneca yang diberikan (di Amerika Latin) tidak cukup bagi seseorang untuk diizinkan masuk? Saya hanya tidak melihat bagaimana ini bisa diterima. Saya benar-benar tidak bisa memikirkannya," ujarnya. "Saya tidak bisa menjelaskan apa yang ada di balik ini - saya hanya tahu bahwa ini sangat, sangat, sangat tidak adil."

Seorang politisi India bahkan membatalkan sejumlah agendanya di Inggris imbas aturan baru tersebut. "Meminta orang India yang sudah divaksinasi penuh untuk dikarantina adalah perbuatan ofensif. Orang Inggris tengah meninjau!" cuit politisi bernama Shashi Tharoor tersebut di Twitter.

Sementara itu, Ifeanyi Nsofor yang merupakan seorang dokter dan kepala eksekutif konsultan kesehatan masyarakat di Nigeria mengingatkan bahwa Inggris merupakan salah satu penyandang dana terbesar di Covax Facility. Sebagai informasi, Covax Facility adalah adalah program bersama untuk mendukung akses Vaksin COVID-19 yang diikuti 171 negara.

"Dan sekarang Inggris mengatakan bahwa vaksin yang sama yang mereka kirimkan, sekarang tidak akan dipertimbangkan. Menyedihkan, itu salah, itu diskriminatif," ujar Nsofor.

Menanggapi kemarahan internasional atas aturan tersebut, Inggris akhirnya berjanji untuk bekerja dengan beberapa negara dalam mengakui paspor vaksin mereka. Pada Rabu (22/9), komisi tinggi Inggris di Kenya merilis pernyataan bersama dengan kementerian kesehatan Kenya, yang mengatakan bahwa Inggris mengakui vaksin COVID-19 yang diberikan di negara Afrika timur.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts