Obat yang Pernah Dipakai Donald Trump Kini Direkomendasikan WHO Untuk Pasien COVID-19
Dunia
Pandemi Virus Corona

Dalam pernyataan pada Jumat (24/9), WHO mengungkapkan bahwa kombinasi obat itu efektif pada pasien yang tidak sakit parah tetapi berisiko tinggi dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, berdasarkan studi klinis.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menambahkan koktail obat antibodi Regeneron ke dalam daftar perawatan untuk pasien virus corona (COVID-19). Tahun lalu, obat tersebut sudah sempat dipakai oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kala ia dikonfirmasi positif terpapar COVID-19.

Dalam pernyataan pada Jumat (24/9), WHO mengungkapkan bahwa kombinasi obat itu efektif pada pasien yang tidak sakit parah tetapi berisiko tinggi dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, berdasarkan studi klinis. Obat ini juga disebut efektif untuk mereka dengan kasus penyakit parah dan tidak memiliki antibodi.

Ini merupakan obat perawatan COVID-19 pertama yang direkomendasikan WHO untuk pasien berisiko tinggi yang tidak parah. Di AS, terapi antibodi ini telah mendapatkan otorisasi penggunaan darurat pada November 2020 lalu usai digunakan oleh Trump. Inggris juga telah memberikan izin penggunaannya, sedangkan Eropa masih melakukan peninjauan.


"WHO memperingatkan agar tidak memperburuk ketidakadilan kesehatan dan ketersediaan terapi yang terbatas, pasien berisiko tinggi yang tidak parah harus dirawat, sedangkan mereka yang parah atau kritis dan tak memiliki antibodi COVID-19 harus diobati; karena kedua kelompok pasien ini adalah pasien yang paling diuntungkan dari perawatan ini," demikian pernyataan WHO, dilansir Al Jazeera.

Selain itu, WHO juga mendesak pemegang paten Regeneron untuk menurunkan harga obat tersebut dan mengupayakan distribusi adil di seluruh dunia. Regeneron juga diminta untuk berbagi tekonologi demi memungkinkan pembuatan versi biosimilar.

Mendukung rekomendasi WHO, organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders mendesak Regeneron untuk menyediakan obat tersebut dengan harga yang wajar. Regeneron juga diminta berhenti memberlakukan paten, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Sangat tidak adil bahwa orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak dapat mengakses perawatan COVID-19 baru yang dapat mengurangi risiko kematian karena monopoli perusahaan farmasi dan menginginkan pengembalian yang tinggi," ujar Dr Elin Hoffmann Dahl dari Doctors Without Borders.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts