Banyak Pelaku Bisnis Restoran Marah, Perdana Menteri Thailand Digugat Rp21 Miliar
Dunia
Pandemi Virus Corona

Perintah untuk sementara menutup restoran sebagai bagian dari langkah-langkah untuk memerangi virus karena keputusan darurat dinilai gagal mengendalikan situasi.

WowKeren - Salah satu operator restoran telah menggugat Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha sebesar 50 juta baht. Jumlah tersebut dianggap sebagai kompensasi atas kerusakan bisnis akibat tindakan yang tidak efektif untuk memerangi pandemi COVID-19.

Sebuah restoran bernama Never Ending Summer Co mewakili 39 bisnis restoran dalam mengajukan gugatan class action ke Pengadilan Sipil, sebagaimana dikatakan oleh pengadilan melalui pernyataan mereka. Pengadilan telah menetapkan 9 November untuk sidang dilakukan melalui Zoom setelah memeriksa petisi dan permintaan.

Never Ending Summer mengatakan dalam petisi bisnis mereka, bahwa mereka telah menderita akibat keputusan pemerintah. Perintah untuk sementara menutup restoran sebagai bagian dari langkah-langkah untuk memerangi virus karena keputusan darurat dinilai gagal mengendalikan situasi.

"Sesuai petisi, ditegaskan bahwa Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha telah menyatakan situasi darurat nasional di bawah pandemi COVID-19 dan telah bertindak dengan sengaja atau lalai," kata pengadilan. "Sehingga mengakibatkan beberapa klaster penyakit."


Petisi itu juga menyebutkan jika sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah dilaksanakan dengan cara yang tidak memadai. Misalnya terkait kampanye vaksinasi, pengelolaan alat tes antigen dan obat-obatan untuk meringankan virus corona.

Tak hanya perdana menteri, Kementerian Kesehatan Masyarakat, Kementerian Dalam Negeri dan Administrasi Metropolitan Bangkok juga disebutkan dalam pengajuan tersebut. Sementara itu, terkait jumlah gugatan 50 juta baht itu adalah yang terhitung sejak 17 Maret tahun lalu. Tanggal tersebut bertepatan dengan tahap awal merebaknya penyakit yang melumpuhkan perekonomian tersebut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Masyarakat baru-baru ini mengatakan jika infeksi COVID-19 baru harian diperkirakan turun menjadi sekitar 5.000 sehari pada akhir Oktober. Kendati demikian, Dr. Kiattiphum Wongrajit tetap khawatir mereka bisa bangkit kembali, karena beberapa faktor.

The Bangkok Post melaporkan bahwa munculnya kelompok infeksi dan kedatangan varian baru masih merupakan faktor risiko, menurut Kiattiphum. "Risiko sekelompok besar infeksi baru yang terjadi masih di luar sana, namun sangat rendah, sementara kemungkinan varian baru penyebaran virus masih dinilai oleh para ahli sebagai tidak tinggi," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts