Studi Temukan Penyebab Pasien Sembuh COVID-19 Cenderung Alami Diabetes
Pixabay/Gary VandenBergh
Dunia

Dokter menemukan penyintas COVID-19 mengembangkan kondisi seperti diabetes meski tak memiliki penyakit komorbid sebelumnya. Kini para pakar kesehatan menemukan dugaan penyebabnya.

WowKeren - Masih banyak misteri yang belum tersingkap dari COVID-19, termasuk berbagai gejala klinis yang timbul setelah sembuh dari infeksi virus tersebut. Salah satu fenomena kesehatan yang diamati para pakar adalah penyintas COVID-19, termasuk mereka yang sebelumnya tak memiliki penyakit penyerta, jadi mengembangkan kondisi diabetes.

Berbagai analisis dikemukakan terkait kondisi ini. Salah satu yang begitu dipercaya adalah virus Corona menginfeksi sel pankreas yang memproduksi insulin sebagaimana virus menemukan reseptor ACE2 di permukaan sel paru-paru.

Dengan sel pankreas yang terinfeksi, hormon insulin yang bertanggungjawab mengatur kadar glukosa darah otomatis jadi tidak bisa diproduksi dengan normal. Kondisi ini juga bisa disebabkan respons antibodi yag berlebihan menyebabkan kerusakan sel pankreas hingga sel-sel reseptor jadi tidak peka terhadap insulin.

Analisis ini pun coba dibuktikan oleh Prof Shuibing Chen dari Weill Cornell Medicine di New York, Amerika Serikat, dengan mengamati sel serta organoid bila terinfeksi COVID-19. Dan hasilnya, sel paru-paru, usus besar, jantung, liver, dan pankreas bisa terdampak.


Lebih spesifik, sel beta penghasil insulin di pankreas ternyata ikut terdampak oleh infeksi virus Corona. Bila terinfeksi, maka sel beta tidak akan memproduksi insulin sebaik kondisi normal.

"Kami menyebutnya transdiferensiasi," jelas Chen yang mempresentasikan hasil penelitiannya di pertemuan tahunan European Association for the Study of Diabetes, Rabu (29/9). "Pada dasarnya mereka mengubah takdir sel, sehingga alih-alih menjadi sel beta yang mensekresi banyak hormon insulin, mereka malah mencampur hormon lain. Ini bisa diteliti lebih jauh dari segi mekanisme patologi COVID-19."

Namun Chen mengaku belum menemukan apakah perubahan ini akan berlangsung dalam jangka waktu lama setelah COVID-19 atau tidak. "Kami tahu beberapa pasien memiliki kadar glukosa darah yang sangat tidak stabil, apalagi ketika mereka dirawat intensif dan sesudah sembuh dari COVID-19," tutur Chen.

"Tapi beberapa di antara mereka juga bisa sembuh (kadar glukosa darah kembali terkendali, sehingga kemungkinan kondisinya tidak permanen," imbuh Chen. Sementara secara terpisah Prof Fransesco Dotta dan rekan-rekan dari Universitas Siena di Italia menjelaskan bahwa COVID-19 menyerang protein ACE2 yang berada di permukaan sel beta pankreas.

Level ACE2 ini pun ditemukan di bawah kondisi inflamasi. "Ini artinya sel beta produsen insulin lebih mudah terinfeksi ketika dalam kondisi inflamasi," lanjut Dotta, sehingga pasien COVID-19 dengan komorbid diabetes tipe 2 akan lebih rawan mengalami kondisi ini.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait