Rusia Catat 1.015 Kematian COVID-19 Dalam Sehari, Rendahnya Angka Vaksinasi Buat Dokter Putus Asa
Dunia
Pandemi Virus Corona

Rusia telah mencatatkan 1.015 kasus kematian pada Selasa (19/10), rekor tertinggi selama pandemi COVID-19. Rendahnya angka vaksinasi COVID-19 lantas menjadi sorotan para dokter di Rusia.

WowKeren - Kasus kematian akibat COVID-19 di Rusia terus meningkat belakangan ini. Rusia bahkan mencatatkan 1.015 kasus kematian pada Selasa (19/10), rekor tertinggi selama pandemi COVID-19.

Rendahnya angka vaksinasi COVID-19 lantas menjadi sorotan para dokter di Rusia. Dari total 146 juta jiwa, baru sekitar sepertiga populasi Rusia yang telah divaksinasi COVID-19.

"Mayoritas pasien ICU yang kondisinya parah belum divaksinasi," tutur Dr. Georgy Arbolishvili kepada The Associated Press. Menurutnya, penyakit ini "bisa dihindari dengan mudah jika saja orang-orang telah divaksinasi".

Tingginya kasus kematian COVID-19 harian di Rusia disebut Arbolishvili "menyebabkan keputusasaan". Adapun total jumlah kematian akibat COVID-19 di Rusia kini mencapai angka 225.325 dan menjadi yang tertinggi di Eropa. Menurut Arbolishvili, jumlah kematian tersebut "terkait langsung dengan vaksinasi".

"Negara-negara dengan tingkat capaian vaksinasi tinggi tidak memiliki angka kematian yang buruk," ujarnya.


Meskipun vaksin COVID-19 berlimpah, orang Rusia telah menunjukkan keragu-raguan dan skeptisisme dalam hal mendapatkan vaksinasi. Hal ini dinilai disebabkan oleh sinyal bertentangan yang dikirim oleh pihak berwenang sejak pandemi dimulai tahun lalu.

Selain masalah vaksinasi, banyak orang di Rusia yang masih berkeliaran di luar rumah dan berpesta di kelab malam. Kerumunan di Simach, sebuah bar trendi dan klub malam di pusat kota Moskow, membuat banyak orang lupa bahwa Rusia kini menjadi salah satu pusat pandemi COVID-19 global.

"Syukurlah kami bisa pergi ke bar dan tidak ada larangan. Saya menentang lockdown apa pun, mereka akan menghancurkan bisnis saya," tutur Natalia Draganova yang menjalankan toko pakaian kecil di Moskow.

Bagi banyak orang seperti Draganova, pembicaraan tentang lockdown baru membawa kembali kenangan menyakitkan pada Maret 2020 saat Rusia menerapkan lockdown total selama lebih daru dua bulan. Selama gelombang pertama virus corona, 60 persen rumah tangga Rusia mengatakan mereka kehilangan pendapatan akibat krisis ekonomi.

"Rusia secara konsisten menunjukkan lebih banyak perhatian tentang situasi ekonomi daripada epidemiologis," ujar Christian Fröhlich, seorang profesor sosiologi di Sekolah Tinggi Ekonomi Moskow. "Orang-orang memiliki harapan yang sangat rendah dari pemerintah dan tidak berharap untuk menerima dukungan apa pun selama penguncian. Ini membantu menjelaskan mengapa banyak orang lebih memilih negara untuk tetap terbuka meskipun banyak kematian (COVID-19)."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts