Pertemuan Puncak atau KTT ASEAN telah berakhir diselenggarakan pada Kamis (28/10). Seperti yang diketahui, dalam pertemuan ini, ASEAN telah sepakat untuk tidak mengundang junta militer Myanmar.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 29 Oktober 2021 - 14:48 WIB
WowKeren - Pada penyelenggaraan pertemuan puncak atau KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mulai 26-28 Oktober 2021, dilaksanakan tanpa dihadiri oleh junta militer Myanmar. Hal ini lantaran junta Myanmar "didepak" dari pertemuan KTT ASEAN akibat dari kudeta yang dilakukannya.
Meski junta "didepak" dari pertemuan KTT ASEAN, Brunei Darussalam menyebut Myanmar adalah bagian dari keluarga ASEAN. Hal ini disampaikan dalam pertemuan terakhir KTT ASEAN. Jenderal Myanmar, Min Aung Hlaing dilarang menghadiri KTT ASEAN lantaran telah gagal menerapkan rencana rekonsiliasi yang disepakati pada pertemuan sebelumnya di bulan April lalu.
Seperti yang diketahui, junta militer merebut kekuasaan Myanmar atau melakukan kudeta sejak Februari lalu. Min Aung Hlaing bahkan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan memicu protes massa, serta kekacauan ekonomi.
Melansir Al Jazeera, sejauh ini, sudah lebih dari seribu orang yang tewas dalam tindakan keras terhadap gerakan anti kudeta. Selain itu, keurusuhan juga telah meningkat di daerah perbatasan yang bergolak lama meskipun janji Min Aung Hlaing untuk mengakhiri kekerasan sebagai bagian dari apa yang disebut dengan "Konsesnsus Lima Poin" yang disetujui dengan para pemimpin ASEAN lainnya.
Saat disinggung mengenai nasib keanggotaan Myanmar di dalam ASEAN, Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah menekankan bahwa keanggotaannya masih terus berlanjut. Ia lantas menegaskan bahwa ASEAN akan selalu ada untuk membantu Myanmar.
“Myanmar adalah bagian integral dari keluarga ASEAN dan keanggotaan mereka tidak dipertanyakan,” ungkap Hassanal. “ASEAN akan selalu ada untuk Myanmar dan kami terus menawarkan bantuan melalui implementasi konsensus lima poin.”
Kemudian, Hassanal juga memaparkan mengenai pakta yang juga mencakup komitmen untuk memulai dialog dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan dan upaya mediasi oleh utusan khusus ASEAN. Dalam pertemuan puncak ASEAN, ia berharap agar para jenderal Myanmar bisa bekerja dengan utusannya untuk meredakan krisis politik dan bbisa kembali normal sesuai dengan keinginan dari rakyatnya.
(wk/tiar)