Laporan dari WHO dan London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan bahwa dampak infeksi Streptococcus Grup B (GBS) pada bayi lebih besar dibanding orang dewasa.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 03 November 2021 - 19:07 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyerukan pengembangan sebuah vaksin untuk melawan infeksi bakteri yang telah menyebabkan hampir 150.000 bayi meninggal maupun stillbirth setiap tahunnya. Seruan itu disampaikan pada Rabu (3/11).
Sebuah laporan terbaru dari WHO dan London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan bahwa dampak infeksi Streptococcus Grup B (GBS) pada bayi lebih besar dibanding orang dewasa, dan telah menjadi penyebab kelahiran prematur dan kecacatan pada bayi. Bakteri ini diperkirakan hidup di saluran usus pada sepertiga jumlah orang dewasa, namun tidak berbahaya.
Laporan tersebut mengonfirmasi temuan sebelumnya dari tahun 2017 bahwa bakteri tersebut menyebabkan hampir 100.000 kematian bayi baru lahir dan hampir 50.000 stillbirth setiap tahun. Namun laporan itu dianggap menunjukkan kesenjangan data yang signifikan di mana angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
Untuk pertama kalinya mengukur dampak pada kelahiran prematur, laporan itu menemukan bahwa GBS bertanggung jawab terhadap lebih dari setengah juta kelahiran dini setiap tahun, yang menyebabkan kecacatan jangka panjang yang signifikan. Mengingat jumlah yang mengejutkan seperti itu, penulis laporan menyesalkan belum adanya banyak kemajuan yang dibuat untuk pengembangan vaksin tersebut.
Dr Phillipp Lambach dari departemen imunisasi WHO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa bakteri ini bisa menjadi ancaman yang nyata bagi kelangsungan hidup bayi yang baru lahir. Jika tidak segera dikembangkan vaksinnya, bakteri ini bisa menghancurkan banyak keluarga secara global.
"Penelitian baru ini menunjukkan bahwa strep Grup B adalah ancaman utama," ujarnya. "Dan tidak seberapa dianggap penting terkait kelangsungan hidup dan kesejahteraan bayi baru lahir, membawa dampak yang menghancurkan bagi begitu banyak keluarga secara global."
Rata-rata, 15 persen wanita hamil di seluruh dunia membawa bakteri GBS di alat vital mereka. Wanita hamil yang terinfeksi dapat menularkan GBS ke janinnya melalui cairan ketuban, atau selama kelahiran saat bayi melewati saluran kelamin.
Bayi dan janin sangat rentan karena sistem kekebalan mereka tidak cukup kuat untuk melawan bakteri tersebut. Jika tidak diobati, GBS dapat menyebabkan meningitis dan septikemia yang bisa bersifat mematikan.
(wk/zodi)