Sejauh ini publik hanya mengetahui Pabrik Konsentrasi Uranium Pyongsan untuk memproduksi kebutuhan persenjataan nuklir Korea Utara. Namun analis mencurigai Korut bisa memproduksi lebih banyak Uranium lagi.
- Elvariza Opita
- Kamis, 04 November 2021 - 16:28 WIB
WowKeren - Korea Utara memang terancam kelaparan maupun mengalami krisis kesehatan akibat COVID-19, namun untuk aspek persenjataan negara ini sama sekali tidak bisa dipandang remeh. Bahkan belum lama ini sebuah studi menyimpulkan Korea Utara bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan uraniumnya untuk senjata nuklir melalui pabrik di Pyongsan.
Bahkan citra satelit menunjukkan Korut mampu menghasilkan bahan bakar nuklir jauh lebih banyak daripada apa yang saat ini terlihat. Bukan hanya itu, Korut pun diduga telah memulai kembali reaktor yang dihasilkan bisa menghasilkan Plutonium yang tentu saja akan digunakan untuk persenjataan.
Perihal kapasitas produksi Uranium untuk bahan bakar senjata nuklir ini sebelumnya telah diteliti oleh para peneliti di Universitas Stanford serta perusahaan konsultan pertambangan berbasis di Arizona dan dipublikasikan lewat jurnal Science & Global Security. Disebutkan bahwa negara yang dikenal sebagai Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) tersebut bisa meningkatkan kapasitas produksi tanpa memerlukan pabrik Uranium lain.
"Jelas bahwa DPRK tampaknya memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar daripada yang digunakan sampai saat ini," tutur laporan tersebut, dikutip pada Kamis (4/11). "Ini berarti bahwa DPRK dapat memproduksi Uranium alami dalam jumlah yang jauh lebih besar apabila diinginkan."
Sejauh ini hanya ada satu pabrik dan tambang bijih Uranium, atau dikenal sebagai yellowcake, yang diakui publik. Yakni Pabrik Konsentrasi Uranium Pyongsan dan tambang-tambang terkaitnya.
Meski begitu, kecurigaan Korut akan meningkatkan kapasitas produksi Uranium mereka semakin kencang beredar karena citra satelit menunjukkan negara tersebut membangun ekspansi besar-besaran di reaktor nuklir Yongbyon. Menurut para analis, pembangunan ini bisa digunakan untuk memproduksi Uranium untuk kebutuhan persenjataan.
"Mengingat program nuklir aktif DPRK, sangat penting untuk menilai dan memahami kemampuan produksi bahan nuklirnya," tegas para peneliti. Kapasitas produksi bahan bakar nukllir di Korut memang menjadi sorotan, terutama terhadap ketegangan di Semenanjung Korea yang turut "diramaikan" negara-negara adidaya seperti Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok, serta bagaimana dengan ancaman keamanan internasional itu sendiri.
(wk/elva)