'Penyalin Cahaya' merupakan film Indonesia yang berhasil berlaga di Busan International Film Festival (BIFF). Setelah tayang perdana di Korea Selatan, 'Penyalin Cahaya' akan segera bisa ditonton seluruh dunia.
- Neressa Prahastiwi
- Senin, 08 November 2021 - 13:06 WIB
WowKeren - Film "Penyalin Cahaya" telah mendapat sorotan meski belum resmi tayang. Film karya sutradara Wregas Bhanuteja tersebut telah tayang perdana di sebuah festival film bergengsi.
"Penyalin Cahaya" bikin bangga Indonesia karena terpilih dalam kompetisi film panjang internasional New Currents di Busan International Film Festival (BIFF) ke-26 di Korea Selatan. Kompetisi tersebut telah digelar pada 6-15 Oktober 2021.
Shenina Cinnamon sebagai salah satu pemain "Penyalin Cahaya" akhirnya membagikan kabar menggembirakan terkait penayangan. Belakangan sejumlah film Indonesia memang mengumumkan perilisan di bioskop yang telah kembali beroperasi.
Namun film "Penyalin Cahaya" rupanya menjadi film Netflix Original yang akan tayang mulai 13 Januari 2022. Sebagai film Netflix Original, "Penyalin Cahaya" berkesempatan ditonton seluruh dunia dengan subtitle dalam berbagai bahasa.
"Untuk penonton di seluruh dunia dan untuk pesan kekuatan yang lebih luas," tulis Shenina pada Senin (8/11). "Film @penyalincahaya akan tayang menjadi NETFLIX Original Worldwide dan akan premiere pada tanggal 13 Januari 2022."
"Penyalin Cahaya" juga bersiap menerima penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Pasalnya film "Penyalin Cahaya" berhasil masuk dalam 17 kategori yang akan memperebutkan Piala Citra pada Rabu (10/11) mendatang.
Shenina Cinnamon dan Chicco Kurniawan yang menjadi pemeran utama dalam film "Penyalin Cahaya" sama-sama masuk nominasi Pemeran Utama Terbaik. Wregas Bhanuteja yang debut menggarap film panjang melalui "Penyalin Cahaya" juga dinominasikan sebagai Sutradara terbaik.
Film "Penyalin Cahaya" sendiri mengangkat isu kekerasan dan pelecehan seksual. Sang sutradara ingin menggambarkan ketidakadilan yang selama ini dialami para penyintas melalui film panjang pertamanya tersebut.
"Di tengah sistem yang corrupt, di tengah sistem yang tidak adil, melawannya adalah dengan semangat kolektif, semangat kebersamaan, dan harapannya semangat itu tersalin, terlipatgandakan," tutur Wregas mengutip dari Kompas.
(wk/nere)