YouTube Hapus Jumlah 'Dislike' Demi Kurangi Pelecehan dan Serangan Siber
Tekno

YouTube mengumumkan penghapusan fitur menghitung jumlah 'dislike' alias 'tidak suka' sebuah video demi mengurangi pelecehan dan serangan siber terhadap pembuat konten.

WowKeren - Pada Rabu (10/11) waktu setempat, platform berbagi video YouTube mengumumkan penghapusan salah satu fiturnya, yakni menghitung jumlah "dislike". Tombol "tidak suka" tersebut tetap tersedia dan bisa dioperasikan, namun pengguna tidak bisa melihat berapa jumlah yang sudah menekannya.

YouTube menyebut langkah ini sebagai perlindungan terhadap pembuat konten agar tidak menjadi target pelecehan dan serangan siber. "Untuk memastikan bahwa YouTube mempromosikan interaksi yang saling menghormati antara penonton dan pembuat konten, kami bereksperimen dengan fitur tombol 'tidak suka'," ujar YouTube dalam pernyataannya, dikutip pada Kamis (11/11).

"Untuk melihat apakah perubahan dapat membantu melindungi pembuat konten kami dari pelecehan dengan lebih baik, serta mengurangi serangan 'tidak suka'," imbuh YouTube. "Data eksperimen kami menunjukkan penurunan perilaku 'menyerang dengan tombol tidak suka'," imbuh YouTube.


Langkah YouTube ini sendiri merujuk pada sejumlah kritikus yang menyoroti bahayanya menampilkan jumlah "suka" dan "tidak suka" di sebuah media sosial. Karena itulah beberapa media sosial lain seperti Facebook dan Instagram sudah terlebih dahulu mencoba tidak menampilkan jumlah pengguna yang menekan tombol "suka" maupun "tidak suka" di sebuah postingan.

Di sisi lain, YouTube juga menerima banyak laporan soal pembuat konten baru atau berskala kecil yang menjadi sasaran serangan "tidak suka". Mereka biasanya menghadapi sekelompok pengguna YouTube yang bekerja bersama-sama untuk meningkatkan jumlah "tidak suka" demi menciptakan impresi yang buruk terhadap pembuat konten tersebut.

Langkah ini juga dikaitkan dengan keruntuhan reputasi yang dialami Facebook setelah mantan karyawannya, Frances Haugen, membuka dokumen perusahaan. Dokumen tersebut mengungkap bahwa eksekutif Facebook sudah mengetahui dampak negatif platform mereka terhadap kesehatan mental para pengguna tetapi mengabaikannya.

Kritik juga disampaikan oleh aktivis hingga anggota dewan yang menuding platform media sosial tidak melakukan hal yang maksimal untuk melawan pelecehan siber. Karena itulah, saat ini YouTube bersama beberapa platform media sosial besar lain seperti TikTok dan Snapchat mencoba meyakinkan senator Amerika Serikat bahwa aplikasi mereka aman, terutama untuk pengguna berusia muda.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts