Penyalahgunaan Antibiotik di Tengah Pandemi Dikhawatirkan Picu Resistensi Bakteri
pixabay.com/Ilustrasi/phoenixwil
Dunia
Pandemi Virus Corona

Bakteri yang telah mengembangkan resistensi dikhawatirkan akan membuat obat-obatan penting yang ada saat ini akan kehilangan efektivitasnya dari waktu ke waktu.

WowKeren - Pan American Health Organization (PAHO) pada hari Rabu (17/11) memperingatkan bahaya jika antibiotik digunakan terlalu sering, khususnya di tengah pandemi seperti sekarang ini. Organisasi tersebut menilai penggunaan antibiotik dan obat antimikroba yang terlalu sering selama pandemi coronavirus membantu bakteri mengembangkan resistensi.

Bakteri yang telah mengembangkan resistensi dikhawatirkan akan membuat obat-obatan penting yang ada saat ini akan kehilangan efektivitasnya dari waktu ke waktu. Badan kesehatan itu mengatakan jika sejumlah negara di Amerika seperti Argentina, Uruguay, Ekuador, Guatemala dan Paraguay, melaporkan lonjakan deteksi infeksi yang resisten terhadap obat.

Yang mana, kondisi itu kemungkinan berkontribusi pada peningkatan kematian pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Direktur PAHO Carissa Etienne menggarisbawahi potensi yang sangat serius ini.

"Kami telah melihat penggunaan antimikroba meningkat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan konsekuensi yang berpotensi serius," katanya. "Kami berisiko kehilangan obat yang kami andalkan untuk mengobati infeksi umum."


Diketahui, penggunaan antimikroba banyak disalahgunakan di luar rumah sakit. Obat-obatan seperti ivermectin dan chloroquine digunakan sebagai pengobatan yang belum terbukti meskipun sudah ada bukti kuat bahwa obat-obatan tidak bermanfaat bagi pasien COVID-19.

Penggunaan ivermectin dan chloroquine telah didorong secara aktif oleh beberapa otoritas di kawasan itu, termasuk Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang sangat anti vaksin. Data dari rumah sakit di wilayah tersebut menunjukkan bahwa 90 hingga 100 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit diberi antimikroba sebagai bagian dari perawatan.

Sementara itu, penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan telah lama dipandang sebagai ancaman potensial yang dapat menyebabkan kemunculan superbug dengan resistensi terhadap pengobatan yang ada. Persoalan ini semakin yang diperburuk oleh pandemi COVID-19.

Dampaknya memang belum bisa dilihat jelas untuk saat ini. Etienne mengatakan mungkin perlu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk itu. "Sepanjang pandemi, kami telah menerima begitu saja kekuatan antimikroba," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts